Antara Nyata dan Imajiner: Makna Teks dan Visual pada Pusaka Azimat dan Keris Pusaka dalam Naskah Keris II Koleksi Perpustakaan Museum Sonobudoyo
Aliffia Marsha Nadhira, Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Sastra
Naskah Keris II merupakan salah satu manuskrip kuno koleksi Perpustakaan Museum Sonobudoyo yang ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Baru. Manuskrip tersebut menjadi serangkaian manuskrip bersama dengan Naskah Keris I dan Naskah Keris III. Penyuntingan teks dan penerjemahan telah dilakukan oleh Aliffia Marsha Nadhira (2021) dalam skripsinya yang berjudul "Naskah Keris II Koleksi Perpustakaan Museum Sonobudoyo Yogyakarta (Suntingan, Terjemahan, dan Kaitannya dengan Ilustrasi)". Berbeda dari penelitian sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri makna yang terbentuk atas teks dan visual dalam Naskah Keris II melalui pendekatan multimodal yang digagas Gunther Kress dan Theo van Leeuwen. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh teks mengenai Pusaka Azimat dan Keris Pusaka dalam Naskah Keris II, beserta imaji visualnya.
Pertama-tama, dalam pendekatan multimodal perlu diketahui terlebih dahulu moda yang digunakan dalam suatu objek material. Dalam konteks penelitian ini, moda yang muncul adalah moda teks dan moda visual. Selanjutnya, untuk menemukan kebaruan makna, perlu diidentifikasi komposisi imaji visual Pusaka Azimat dan Keris Pusaka terlebih dahulu. Setelah itu, berbagai teks, baik dari Naskah Keris I, II, III, maupun manuskrip lain, serta cerita lisan yang berkembang di masyarakat dihimpun untuk kemudian ditelusuri kaitannya dengan imaji visual Pusaka Azimat dan Keris Pusaka dalam Naskah Keris II.
Dari pengolahan hingga analisis data dapat disimpulkan bahwa berdasarkan context of culture masyarakat Jawa, beberapa keris Pusaka Azimat dan Keris Pusaka yang dimuat dalam Naskah Keris II mengandung kebaruan bentuk dan nama. Ketidaklaziman imaji visual dalam Naskah Keris II, bukan berarti pengetahuan dalam manuskrip tersebut salah, tetapi menjadi khazanah baru dalam perkerisan Jawa. Ada kemungkinan bahwa penulis dan ilustrator ingin menjaga pengetahuan keris yang sakral supaya tidak diketahui banyak orang; kemungkinan juga penulis dan ilustrator kurang memahami aturan baku dhapur dan pamor keris sehingga membuat visual yang amat berbeda dengan realitanya; terakhir, adanya keterbatasan tinta dan cat sehingga imaji visual dalam Naskah Keris II dibuat dengan sederhana.
Naskah Keris II is one of the ancient manuscripts in the Sonobudoyo Museum Library collection written in New Javanese script and language. The manuscript is a series of manuscripts along with Naskah Keris I and Naskah Keris III. Text editing and translation have been carried out by Aliffia Marsha Nadhira in her thesis entitled “Naskah Keris II Collection of Sonobudoyo Library in Yogyakarta (Text Edition, Translation, and Its Relation with the Illustrations)”. Different from previous study, this research aims to explore the meaning formed by the text and visuals in Naskah Keris II through a multimodal approach initiated by Gunther Kress and Theo van Leeuwen. The data used in this research are all texts about the Azimat and Keris Pusaka in Naskah Keris II, along with their visual images.
First of all, in the multimodal approach, it is necessary to know in advance the modes used in a material object. In the context of this research, the modes that appear are text mode and visual mode. Furthermore, to find the novelty of meaning, it is necessary to identify the composition of the visual imagery of Pusaka Azimat and Keris Pusaka first. After that, various texts from Naskah Keris I, II, III and other manuscripts, as well as oral stories developed in the community, are collected and then traced in relation to the visual imagery of Pusaka Azimat and Keris Pusaka in Naskah Keris II.
From the processing and analysis of the data, it can be concluded that based on the context of culture of Javanese society, some of the Pusaka Azimat and Keris Pusaka in Naskah Keris II contain new forms and names. The unfamiliarity of the visual images in Naskah Keris II does not mean that the knowledge in the manuscript is wrong, but it becomes a new treasure in Javanese krising. It is possible that the author and illustrator wanted to keep the sacred knowledge of keris unknown to many people; it is also possible that the author and illustrator did not understand the standard rules of dhapur and pamor keris so that they made visuals that were very different from the reality; finally, there were limitations of ink and paint so that the visual images in Naskah Keris II was made less extraordinary.
Kata Kunci : keris Jawa, imaji visual, Naskah Keris II, multimodal