Laporkan Masalah

DUA WAJAH KOTA SABANG: MENAMPILKAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN DALAM PENANGANAN PENGUNGSI ROHINGYA DI ACEH

Kodrat Adami, Dr. Realisa Darathea Masardi, MA

2025 | Tesis | S2 Antropologi

Diskriminasi dan kekerasan yang dialami oleh kelompok minoritas Muslim Rohingya di Myanmar telah memaksa mereka meninggalkan tanah air mereka untuk mencari perlindungan di tempat yang lebih aman, termasuk ke Indonesia.  Aceh, yang menjadi salah satu titik pendaratan pengungsi Rohingya sejak tahun 2006, pernah menerima kehadiran pengungsi dengan baik atas dasar kemanusiaan dan solidaritas. Namun demikian,  respons masyarakat Aceh, termasuk di Kota Sabang menunjukkan penolakan terhadap gelombang kedatangan pengungsi Rohingya ke Aceh pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab mengapa masyarakat Kota Sabang menolak kehadiran pengungsi Rohingya  pada tahun 2023. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan mengkombinasikan observasi partisipan dan wawancara mendalam dengan masyarakat kota Sabang. Data dikumpulkan melalui metode etnografi selama 3 bulan di Kota Sabang dan wawancara semi terstruktur untuk memahami dinamika masyarakat dengan pengungsi. Dengan menggunakan teori dramaturgi Goffman, Hasil penelitian menunjukkan bahwa penolakan yang dilakukan oleh masyarakat Sabang terhadap pengungsi Rohingya diinterpretasikan sebagai sebuah pertunjukan (performance). Pertunjukan tersebut, layaknya yang dimainkan oleh para pemain (performer) di atas panggung, ditampilkan di panggung depan untuk menyampaikan pesan kepada target tertentu untuk mencapai tujuan yang mereka harapkan dari penontonnya. Audiens dari aksi penolakan ini antara lain adalah pemerintah, fasilitator kedatangan pengungsi Rohingya, organisasi internasional (UNHCR & IOM), dan pengungsi Rohingya itu sendiri. Adapun di panggung belakang, masyarakat menunjukkan sisi lain yang disembunyikan pada panggung depan, yakni solidaritas dan kasih sayang kepada pengungsi untuk menjaga kesan yang ditampilkan kepada audiens. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penolakan yang dilakukan masyarakat bukan semata-mata lahir dari perasaan resentment atau kejengkelan terhadap orang asing, tetapi merupakan cara untuk mengirim pesan kepada berbagai aktor sosial yang berkaitan dengan penanganan pengungsi Rohingya di Aceh.


Discrimination and violence experienced by the Rohingya Muslim minority group in Myanmar has forced them to leave their homeland to seek refuge in safer places, including Indonesia.  Aceh, which has been one of the landing points for Rohingya refugees since 2006, has welcomed refugees on the basis of humanity and solidarity. However, the response of the Acehnese community, including in Sabang, has shown resistance to the influx of Rohingya refugees to Aceh in 2023. This study aims to answer why the people of Sabang rejected the presence of Rohingya refugees in 2023. This study was conducted using qualitative methods, combining participant observation and in-depth interviews with the community in Sabang. Data was collected through ethnographic methods over a three-month period in Sabang City and semi-structured interviews to understand the dynamics between the community and the refugees. Using Goffman's dramaturgy theory, the results of the study show that the rejection of Rohingya refugees by the Sabang community is interpreted as a performance. This performance, like that played by performers on stage, is staged in front of an audience to convey a message to a specific target in order to achieve the desired goal from the audience. The audience for this rejection includes the government, facilitators of the Rohingya refugees' arrival, international organizations (UNHCR & IOM), and the Rohingya refugees themselves. Meanwhile, in the backstage, the community shows another side that is kept hidden from the front stage, such as solidarity and compassion for the refugees, to maintain the impression presented to the audience. The conclusion of this study is that the rejection by the community does not stem merely from feelings of resentment or annoyance toward foreigners, but is a way to send a message to various social actors involved in the handling of Rohingya refugees in Aceh.


Kata Kunci : Dramaturgi, Penolakan masyarakat, Pengungsi Rohingya

  1. S2-2025-527599-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527599-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527599-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527599-title.pdf