Police dan Tindakan Politik/Nonpolitik dalam Novel Natisha Karya Khrisna Pabichara
Nurfadila, Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum
2025 | Tesis | S2 Sastra
INTISARI
Dalam perspektif sosiologi sastra, karya sastra bisa menjadi ruang penting untuk bersikap kritis dan sekaligus bernegosiasi terhadap banyak hal. Dalam hal ini, tidak terkecuali novel Natisha karya Khrisna Pabichara. Novel ini menggambarkan bagaimana tatanan sosial (police) sebagai konsensus berpengaruh terhadap tindahak tokoh-tokonyanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana police serta tindakan politik dan nonpolitik tergambar dalam novel tersebut menggunakan teori kesetaraan politik dari Jacques Rancière. Penelitian ini menggunakan deskriptif analitis sebagai metode penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa police dalam novel tergambar melalui stratifikasi sosial masyarakat Jeneponto yang membagi individu berdasarkan arkhe darah yang mengikuti garis keturunan ayah, menjadi karaeng atau kaum bangsawan, daeng atau orang kebanyakan, dan ata atau rakyat jelata. Tokoh dalam novel menunjukkan beragam respons terhadap struktur sosial yang hierarkis ini, karena adanya orang-orang yang tidak terlihat dan tidak masuk dalam hitungan pada teori Rancière disebut sebagai demos. Tokoh-tokoh tersebut ada yang patuh dan menerima serta ada pula yang melakukan perlawanan. Tindakan politik ditunjukkan oleh tokoh-tokoh seperti Tutu dan Natisha yang berusaha untuk menginterupsi tatanan yang diskriminatif tersebut melalui penolakan terhadap ruang, tempat, dan peran (simbolik) yang dipaksakan terhadap mereka. Sementara itu, tindakan nonpolitik terlihat pada tokoh-tokoh seperti Syukur dan Rangka yang memilih untuk tunduk, menyesuaikan diri, dan menolak melakukan interupsi terhadap police. Namun, novel ini juga memperlihatkan hegemoni kuasa yang lebih besar konsensus masyarakat modern/kapitalisme, yakni ketika mereka menerima dan melanggengkan struktur yang sudah ada tanpa menunjukkan upaya subjektivasi politik.
Kata kunci: police, tindakan politik/nonpolitik, demos, disensus, hegemoni
ABSTRACT
This study aims to reveal how the concept of police as well as political and non-political actions are portrayed in the novel using Jacques Rancière’s theory of political equality. This research adopts a descriptive-analytical method. The findings indicate that police in the novel is represented through the social stratification in Jeneponto society, which classifies individuals based on paternal bloodlines into karaeng (nobles), daeng (commoners), and ata (peasants). The characters in the novel exhibit various responses to this hierarchical social structure, particularly those who are unseen and uncounted—what Rancière calls the demos. Some characters submit and conform, while others resist. Political actions are shown by characters like Tutu and Natisha, who attempt to interrupt the discriminatory order by rejecting the (symbolic) spaces, places, and roles imposed upon them. Meanwhile, non-political actions are seen in characters like Syukur and Rangka, who choose to comply, adapt, and refrain from interrupting the police. However, the novel also portrays a larger hegemonic power of modern/capitalist society’s consensus—namely, when characters accept and perpetuate existing structures without any effort at political subjectivation.
Keywords: police, political/nonpolitical action, demos, dissensus, hegemony.
Kata Kunci : police, tindakan politik, demos, disensus, hegemoni