Pengaturan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di Kawasan Rawan Banjir Sebagian Wilayah Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta
Titik Firmantini, Dr. Retnadi Heru Jatmiko, M.Sc; Dr. Andri Kurniawan, S.Si., M.Si
2025 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN BENCANA
Banjir
merupakan bencana dengan kejadian paling sering dan berdampak signifikan
terhadap manusia, ekonomi, dan lingkungan, terutama di kawasan perkotaan.
Banjir perkotaan sering dipengaruhi oleh tingginya permukaan terbangun karena
memicu limpasan permukaan yang melebihi kapasitas drainase. Kecamatan Pasar
Kliwon, Kota Surakarta merupakan salah satu kawasan rawan banjir. Selain karena
kondifi fisik alamnya, Pasar Kliwon juga merupakan kawasan padat terbangun,
sehingga potensi limpasan permukaan tinggi. Pengendalian kepadatan kawasan
terbangun dapat dilakukan melalui pengaturan Koefisien Dasar Bangunan (KDB). Namun,
umumnya penilaian KDB hanya mempertimbangkan luasan lantai bangunan utama tanpa
memperhitungkan jenis permukaan lainnya yang berpotensi menambah debit limpasan
permukaan.
Penelitian
ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian kepadatan bangunan yang digambarkan
dengan nilai KDB eksisting terhadap ketentuan KDB dalam Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR), serta implikasinya terhadap potensi banjir dan perumusan
strateginya. Metode yang digunakan adalah overlay dengan memanfaatkan
Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Google Earth Street View untuk
mengidentifikasi jenis permukaan berdasarkan tingkat permeabilitasnya, guna
menilai kontribusinya terhadap nilai KDB.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa 89% area penelitian memiliki nilai KDB tidak
sesuai (melebihi) KDB rencana. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh
permukaan di lokasi penelitian telah diperkeras dengan material kedap air. Selain
itu, 66% area berpotensi rawan banjir tinggi karena implementasi KDB eksisting
yang tidak sesuai dengan KDB rencana. Ketidaksesuaian tersebut dikarenakan
beberapa faktor seperti luas persil terbatas, konversi non terbangun menjadi
terbangun pada kawasan yang berfungsi lindung karena pengaturan RDTR yang
kurang mempertimbangkan aspek mitigasi bencana, dan kontribusi elemen
perkerasan selain bangunan terhadap KDB eksisting yang sebelumnya belum pernah
diperhitungkan. Sebagai langkah mitigasi, strategi yang diusulkan meliputi
perlindungan ruang terbuka hijau melalui akuisisi lahan dan relokasi, perbaikan
muatan RDTR berbasis mitigasi bencana, perlunya penyesuaian kriteria KDB yang
tidak hanya memperhitungkan bangunan sebagai elemen utama tetapi juga elemen
perkerasan lainnya pada persil, hingga perlunya mengatur luasan kavling
minimum.
Flooding is the most frequent disaster and has
significant impacts particularly in urban areas. Urban flooding is often
influenced by built-up area, which increases surface runoff. Pasar Kliwon
District in Surakarta City is one of the flood-prone areas due to it’s physical
geographical conditions and density of built-up areas, increasing the potential
for runoff. The density of built-up areas is regulated through the Building
Coverage Ratio (BCR) in Detailed Spatial Plan. However, BCR assessment commonly
considers only the main building footprint, excluding other surface types that can
contribute to runoff.
This study aims to evaluate the BCR’s conformity
between existing and spatial plan, as well as their implications for flood
potential and mitigation strategies. The method used includes overlay analysis
with GIS and Street View to identify surface types based on permeability in
order to assess their contribution to BCR.
The findings show a high level of non-conformity
(89%), indicating that most surfaces in the study area are paved with
impervious materials. Around 66% area of
the area is highly susceptible to flooding due to exixting BCR ecxeed BCR in
spatial plan. The non-comformity can be caused by some factors such as parcel
sizes, conversion of open spaeces to built-up use, and the contribution of
non-building pavements to existing BCR, which have previously been overlooked.
Mitigation strategies include land acquisition and relocation to protect green
spaces, revising spatial plan to incorporate disaster mitigation, redefining BCR
criteria to include all impervious surfaces, and regulating minimum parcel
sizes.
Kata Kunci : KDB, RDTR, banjir perkotaan