Laporkan Masalah

Livabilitas Permukiman Pasca Program Upgrading di Pulau Penyengat Kota Tanjungpinang

Fikrian Rafika Dewi, Ardhya Nareswari, S.T., M.T., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Livabilitas pada kasus permukiman pasca program upgrading menjadi penting, sebagai pendekatan untuk memahami permukiman saat ini dalam menciptakan permukiman layak huni sekaligus sebagai umpan balik terhadap program tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat livabilitas permukiman di Pulau Penyengat berdasarkan penilaian penghuni dan menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat livabilitas. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu deduktif berdasarkan tiga variabel utama yaitu lingkungan fisik, lingkungan sosial, serta keselamatan dan keamanan. Data dikumpulkan melalui kuisioner, observasi, dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan skoring dan dideskripsikan secara kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat livabilitas permukiman di lokasi penelitian berada dalam kategori tinggi dengan nilai sebesar 3,84. Tingginya nilai tersebut merupakan refleksi dari kontribusi kelima elemen permukiman, yang terbentuk melalui peran aktif masyarakat secara mandiri maupun intervensi program upgrading yang dilakukan secara kolaboratif oleh Pemerintah. Hasil analisis berdasarkan ketiga pengumpulan memperkuat temuan bahwa peningkatan kualitas pada infrastruktur terintervensi program upgrading berdampak pada tingginya tingkat livabilitas. Penelitian ini menemukan lima faktor yang mempengaruhi tingkat livabilitas, yang menegaskan bahwa livabilitas dipengaruhi oleh dimensi multidimensional, mencakup faktor fisik maupun nonfisik. Faktor-faktor tersebut, yaitu: 1) fungsionalitas dan adaptabilitas infrastruktur; 2) aksesibilitas; dan 3) kondisi geografis permukiman pesisir sebagai faktor fisik, serta 4) kondisi finansial; dan 5) kohesi dan partisipasi sosial sebagai faktor nonfisik.

Meskipun sudah berada dalam kategori livabilitas tinggi, penelitian ini mengungkap perlunya peningkatan kualitas infrastruktur khususnya pada rumah tidak layak huni, evaluasi terhadap infrastruktur hasil program upgrading, dan penguatan aspek pembiayaan serta partisipasi masyarakat guna meningkatkan livabilitas yang berkelanjutan.

Berdasarkan hasil temuan tesebut, penelitian ini merumuskan tiga konsep lokal livabilitas permukiman kumuh pasca program upgrading yang menjadi karakter permukiman pesisir, yaitu: 1) adaptif terhadap kondisi geografis permukiman pesisir; 2) infrastruktur dasar permukiman yang fungsional; dan 3) kohesi sosial partisipastif. Ketiga konsep tersebut merepresentasikan pemaknaan lokal atas livabilitas dan dapat menjadi acuan dalam penanganan kekumuhan maupun pengembamgan lokasi penelitian dengan memperhatikan nilai-nilai lokal permukiman pesisir. 

Livability within the context of post-upgrading slum settlements is a critical issue—not only as feedback for the upgrading programs initiatives but also as an approach to understand the current condition of settlements in achieving livable settlements. This study seeks to assess the level of settlement livability on Penyengat Island based on residents’ perspective and to find the key factors influencing livability level. The research adopts a deductive approach with a qualitative method, focusing on three primary variables: the physical environment, the social environment, and safety and security. Data collection was conducted through questionnaires, observations, and in-depth interviews, and subsequently analyzed using scoring techniques complemented by descriptive qualitative interpretation.

The findings reveal that the livability level is categorized as high, with an average score of 3.84. This high rating reflects the contribution of the five fundamental elements of settlement, created through active community participation and collaborative upgrading program. The analysis indicates that improvements in infrastructure quality influence livability level. Furthermore, the research finds five key factors influencing livability, highlighting its multidimensional nature that encompasses both physical and non-physical dimensions. These factors include: (1) functionality and adaptability of infrastructure, (2) accessibility, and (3) geographic conditions of coastal settlements as physical factors; as well as (4) financial conditions and (5) social cohesion and community participation as non-physical factors.

Despite the overall high livability score, the research highlights the need to improve the quality of infrastructure—particularly substandard housing, to evaluate the outcomes of upgrading interventions, and to strengthen financial mechanisms and community participation to enhance sustainable livability. Based on these findings, the research proposes three local concepts of livability specific to upgraded slum coastal settlements: (1) adaptability to the geographic conditions of coastal environments, (2) functional basic infrastructure, and (3) participatory social cohesion. These concepts represent localized interpretations of livability and can serve as a reference for slum upgrading strategies and future development in coastal settlements.

Kata Kunci : livabilitas permukiman, permukiman kumuh pesisir, program upgrading, pulau penyengat, faktor livabilitas.

  1. S2-2025-514922-abstract.pdf  
  2. S2-2025-514922-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-514922-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-514922-title.pdf