Ungkapan Kemarahan dalam Komunitas Marah-Marah di Media Sosial X: Tinjauan Sosio-Pragmatik
Indah Fauziah Nova, Dr. Daru Winarti, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Penelitian ini membahas mengenai ungkapan kemarahan berbentuk kalimat yang ditemukan dalam Komunitas Marah-Marah di media sosial X. Terdapat beberapa ciri yang dapat menandai suatu kalimat dikatakan sebagai ungkapan kemarahan, yaitu adanya penggunaan makian sebagai penanda kemarahan, penggunaan huruf kapital sebagai penanda penggunaan nada suara yang keras, dan penggunaan emotikon sebagai pendukung yang merepresentasikan ekspresi wajah penutur. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan jenis kalimat, (2) menganalisis jenis tindak tutur, dan (3) menguraikan fungsi-fungsi dalam ungkapan kemarahan di Komunitas Marah-Marah. Pendapat Ramlan dan Searle digunakan untuk membatasi pembahasan mengenai jenis kalimat dan jenis tindak tutur, sedangkan teori Leech digunakan untuk menjelaskan fungsi-fungsi ungkapan kemarahan dalam Komunitas Marah-Marah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menyimak dan mencatat ungkapan kemarahan yang ditemukan dalam Komunitas Marah-Marah.
Dari analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa ungkapan kemarahan dalam Komunitas Marah-Marah dapat terbentuk melalui pola kalimat [makian] +/- [konteks kemarahan] +/- [emotikon]. Unsur-unsur dalam pola tersebut tidaklah ajeg dan dapat dipertukarkan sebagai satu kesatuan yang digunakan untuk mengungkapkan kemarahan penutur. Dalam Komunitas Marah-Marah, sekurang-kurangnya ditemukan tiga jenis tindak tutur, yaitu asertif, direktif, dan ekspresif. Ungkapan kemarahan dalam Komunitas Marah-Marah termasuk dalam tindak tutur berjenis asertif bermaksud untuk melaporkan. Tindak tutur berjenis direktif bermaksud untuk menyuruh dan melarang. Sementara itu, tindak tutur berjenis ekspresif dalam ungkapan kemarahan bermaksud untuk mengeluh, mengkritik, dan menyalahkan. Ungkapan kemarahan dalam Komunitas Marah-Marah berfungsi sebagai penegasan identitas kelompok, pelampiasan emosi kemarahan, pembangun solidaritas komunitas, dan pengawas perilaku seseorang.
This research aimed to examine anger expressions in sentence forms identified within the Komunitas Marah-Marah on X (formerly Twitter). Several distinctive features characterize sentences as anger expressions, including the use of: (1) cursing as anger markers, (2) capitalization indicating loud vocal tone, and (3) emoticons representing the speaker's facial expressions. This study aimed to (1) describe sentence types, (2) analyze speech act types, and (3) elaborate on the functions of anger expression within the Komunitas Marah-Marah. Theoretical frameworks employed include Ramlan and Searle's theories for delimiting sentence types and speech acts, and Leech's theory for identifying the functions of anger expressions within the Komunitas Marah-Marah. This research was a qualitative descriptive method using a case study approach. Data were collected throught observation and documentation of anger expressions in the Komunitas Marah-Marah on platform X.
The analysis revealed that anger expressions in the Komunitas Marah-Marah manifest through a sentence pattern: [cursing] +/- [anger context] +/- [emoticon]. The constituent elements within this pattern are non-fixed and may be permuted while maintaining their collective function in conveying the speaker's anger. Three primary speech act were identified within the Komunitas Marah-Marah included assertive, directive, and expressive. Assertive speech act intended to report or state anger. Directive speech act aimed to commanding or prohibiting certain actions. Expressive speech act designed to complain, criticize, or assign blame. Furthermore, these anger expressions serve four key sociological functions, such as group identity affirmation, emotional reactions, building community solidarity, and observing someone’s behavior.
Kata Kunci : ungkapan, kemarahan, komunitas, media sosial X, sosio-pragmatik