ANALISIS STRATEGI KETANGGUHAN PT WIJAYA KARYA (PERSERO) TBK DALAM MERESPON KEBIJAKAN PEMOTONGAN ANGGARAN PEMERINTAH
Dessy Nurul Fitri, Boyke Rudy Purnomo, S.E., M.M., PhD., CFP
2025 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA
Kebijakan
pemotongan anggaran pemerintah yang diterapkan dalam rangka efisiensi fiskal
berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan konstruksi milik negara,
termasuk PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Perusahaan menghadapi tekanan
likuiditas, penurunan arus kas, serta ketidakpastian dalam kelangsungan proyek
infrastruktur stratejik. Untuk menjawab tantangan tersebut, WIKA menjalankan
program transformasi bisnis melalui strategi “Cash-focused, Lean, and Fit-for-Future” yang didukung oleh
restrukturisasi keuangan dan penguatan tata kelola.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan metode deskriptif,
serta memadukan analisis SWOT dan kerangka Ketangguhan Perusahaan (Enterprise Resilience/ER) untuk
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal perusahaan. Kerangka ER mencakup
tiga dimensi utama, yaitu kapasitas kesiapsiagaan (preparedness), adaptasi (adaptive),
dan pemulihan (recovery). Data primer
diperoleh melalui wawancara mendalam dan kuesioner kepada manajemen senior
WIKA, sementara data sekunder berasal dari dokumen internal dan referensi
pendukung lainnya.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa strategi ketangguhan WIKA bertumpu pada kekuatan
internal seperti portofolio bisnis yang terdiversifikasi, SDM berpengalaman,
dan inisiatif keberlanjutan (ESG). Namun, WIKA masih menghadapi tantangan besar
berupa ketergantungan tinggi pada proyek pemerintah dan kondisi arus kas yang
belum sepenuhnya pulih. Berdasarkan matriks IFE-EFE, WIKA berada pada posisi
strategi “Hold and Maintain” dengan
penekanan terbesar pada kapasitas pemulihan (36,1%). Temuan ini menegaskan
pentingnya diversifikasi pendapatan, efisiensi operasional, dan peningkatan
kapasitas adaptif dalam menjaga keberlanjutan perusahaan di tengah tekanan
anggaran.
The budget cut policy
implemented by the Government of Indonesia has had a substantial impact on
state-owned enterprises (SOEs), especially in the construction sector. PT
Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), as one of the leading SOEs in infrastructure
development, has experienced a significant decrease in financial performance
and operational stability. In response to this, WIKA has undertaken a
comprehensive business transformation through a “Cash-focused, Lean, and
Fit-for-Future” strategy, accompanied by financial restructuring measures and
organizational reforms.
This research uses a
qualitative case study approach with descriptive methods and employs SWOT
analysis and the Enterprise Resilience (ER) framework to examine both internal
and external factors affecting the company. The ER framework includes three
main capacities: preparedness, adaptability, and recovery. Primary data were
collected through in-depth interviews with senior management and
questionnaires, while secondary data were obtained from internal documents,
reports, and relevant literature.
The findings show that WIKA's
resilience strategy is largely driven by its diversified business portfolio,
experienced human capital, and ESG-oriented initiatives. However, the company
is still facing major threats such as financial instability, high dependency on
government projects, and regulatory uncertainty. The analysis places WIKA in a
“Hold and Maintain” strategic position, with a strong emphasis on recovery
capacity (36.1%) as the most dominant resilience pillar. These results
highlight the importance of adaptive measures and income diversification to
sustain WIKA’s operations amidst fiscal tightening.
Kata Kunci : strategi resilience, transformasi bisnis, enterprise resilience, analisis SWOT, pemotongan anggaran, PT Wijaya Karya, BUMN