Autentisitas Digital Religion Ditinjau dari Teori Simulasi Jean Baudrillard (1929/2007)
M. Syamsul Ma'arif, Authenticity, Digital Religion, Simulacra, Hyperreality, Jean Baudrillard
2025 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Jean Baudrillard mendeskripsikan masyarakat postmodern sebagai masyarakat yang terjebak dalam era simulasi dan hiperrealitas. Tanda dan citra tidak lagi memiliki referensi yang nyata dalam realitas. Masyarakat tidak lagi dapat membedakan batas antara yang asli dan yang tiruan karena tanda dan simbol telah menjelma menjadi sesuatu yang lebih nyata dari realitas itu sendiri. Hal serupa terjadi pada agama digital yang merupakan satu bentuk kolaborasi antara agama dengan teknologi komputer dan internet. Maraknya praktik keagamaan daring seperti ritual, dakwah, dan komunitas di ruang virtual memunculkan pertanyaan krusial terkait keaslian pengalaman dan makna spiritual yang ditawarkannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis autentisitas digital religion melalui teori simulasi Jean Baudrillard.
Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif bidang filsafat tentang permasalahan aktual
dengan menggunakan metode hermeneutika filosofis yang mengambil objek
kepustakaan dari berbagai artikel, jurnal, maupun buku terkait permasalahan
aktual yang diangkat. Objek material dalam penelitian ini adalah agama digital
dan objek formal penelitian adalah teori simulasi Jean Baudrillard.
Hasil penelitian ini adalah bahwa agama digital cenderung
kehilangan autentisitasnya karena esensi spiritual dan sakralitas agama
terdistorsi oleh logika simulasi dan representasi digital yang menciptakan
realitas semu. Tanda dan simbol keagamaan tidak lagi merujuk pada realitas
transenden. Masyarakat tidak lagi dapat membedakan antara yang asli dan yang
tiruan, yang sakral dan yang profan serta terjebak ke dalam apa yang disebut sebagai
hiperrealitas.
Jean Baudrillard describes postmodern society as one that is trapped within an era of simulation and hyperreality. Signs and images no longer possess concrete references to actual reality. Society has lost the ability to distinguish between the authentic and the artificial, as signs and symbols have evolved into entities that appear more real than reality itself. A similar condition can be observed in digital religion, which represents a form of collaboration between religion and computer or internet technology. The proliferation of online religious practices—such as rituals, preaching, and virtual communities—raises crucial questions regarding the authenticity of the spiritual experiences and meanings they convey. This study aims to analyze the authenticity of digital religion through the lens of Jean Baudrillard’s theory of simulation.
This research is a
qualitative philosophical study that addresses a contemporary issue using the
method of philosophical hermeneutics. The research draws upon a wide range of
literature including articles, journals, and books relevant to the topic under investigation.
The material object of this study is digital religion, while its formal object
is Jean Baudrillard’s theory of simulation.
The results of this study
are that digital religion tends to lose its authenticity due to the distortion
of spiritual essence and sacredness by the logic of simulation and digital
representation, which generates a simulated reality. Religious signs and
symbols no longer refer to a transcendent reality. Consequently, society
becomes incapable of distinguishing between the real and the replica, the
sacred and the profane, and is ultimately caught within what Baudrillard refers
to as hyperreality.
Kata Kunci : Autentisitas, Agama Digital, Simulakra, Hiperrealitas, Jean Baudrillard