Strategi Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Cerebral Palsy Melalui Peran Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP)
Khansa Anandya Karin, Dr. Krisdyatmiko, S.Sos., M.Si.
2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Pemberdayaan penyandang disabilitas, khususnya cerebral palsy (CP), merupakan upaya sistematis untuk mendukung mereka dalam menghadapi tantangan kompleks secara fisik, sosial, maupun psikologis. Dalam hal ini, komunitas berbasis keluarga seperti Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) memegang peran penting dalam mendorong transformasi sosial yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk serta pelaksanaan strategi pemberdayaan yang dilakukan WKCP, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi dinamika pelaksanaannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode berupa studi kasus deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ditentukan berdasarkan beberapa kriteria informan, yang terdiri dari pengurus, penyandang cerebral palsy, orang tua, relawan, mitra, serta masyarakat sekitar. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi studi pustaka, dokumentasi, wawancara mendalam, dan observasi partisipatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan yang dijalankan WKCP sebagai komunitas berbasis keluarga memiliki karakteristik tersendiri. Praktik pemberdayaan dilakukan secara menyeluruh dengan menempatkan orang tua sebagai aktor utama dalam proses pendampingan penyandang cerebral palsy. Selain itu, peran relawan turut dioptimalkan sebagai bagian penting dalam dinamika komunitas. Serta, komunitas ini secara khusus turut memfasilitasi penyandang usia remaja-dewasa melalui WKCP Youth sebagai ruang pengembangan diri yang inklusif.
Namun, dalam mengukur keberdayaan penyandang cerebral palsy, WKCP tidak menggunakan standar normatif pada umumnya, melainkan mengacu pada pendekatan hak asasi atas setiap individu. Dalam konteks ini, keberdayaan penyandang dilihat dari kemajuan dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, bukan berdasarkan pada standar kemampuan umum masyarakat. Pendekatan ini dianggap lebih kontekstual, mengingat kompleksitas kondisi yang dialami oleh setiap individu. Oleh karena itu, integrasi antara strategi 3M dan 5P digunakan untuk menangkap keunikan praktik pemberdayaan yang dilakukan WKCP secara komprehensif. Lebih lanjut, strategi pemberdayaan yang dijalankan ini bersifat multilevel, tidak hanya berfokus pada penguatan individu, tetapi juga melibatkan seluruh elemen komunitas sebagai bagian dari penguatan organisasi. Upaya pemberdayaan ini bahkan mulai menjangkau skala komunitas yang lebih luas. Meskipun, dampaknya belum sepenuhnya signifikan, tetapi hal ini menunjukkan bagaimana peran aktif WKCP dalam membangun pemberdayaan yang berkelanjutan.
Empowering people with disabilities, particularly cerebral palsy (CP), is a systematic effort to support them in facing complex physical, social, and psychological challenges. In this regard, family-based communities such as Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) play an important role in encouraging inclusive and sustainable social transformation. This study aims to identify and describe the forms and implementation of empowerment strategies carried out by WKCP, including the factors that influence the dynamics of their implementation.
This study uses a qualitative approach with a descriptive case study method. The unit of analysis in this study was determined based on several informant criteria, consisting of administrators, people with cerebral palsy, parents, volunteers, partners, and the surrounding community. The data collection techniques used consist of literature review, documentation, in-depth interviews, and participatory observation.
The research findings that the empowerment strategies implemented by WKCP as a family-based community has its own characteristics. Empowerment practices are carried out comprehensively, with parents as the primary actors in the process of supporting individuals with cerebral palsy. Additionally, the role of volunteers is optimized as an important component of the community's dynamics. Also, this community specifically facilitates adolescents and adults with cerebral palsy through WKCP Youth as an inclusive space for personal development.
However, when measuring the empowerment of people with cerebral palsy, WKCP does not use general normative standards, but rather refers an approach based on the human rights of each individual. In this context, the empowerment of people with disabilities is viewed in terms of individual progress compared to their previous condition, rather than based on general societal ability standards. This approach is considered more contextual, given the complexity of the conditions experienced by each individual. Therefore, the integration of the 3M and 5P strategies is used to comprehensively capture the uniqueness of WKCP's empowerment practices. Furthermore, the empowerment strategy implemented is multilevel, not only focusing on strengthening individuals but also involving all elements of the community as part of organizational strengthening. These empowerment efforts have even begun to reach a wider community scale. Although the impact is not yet fully significant, it demonstrates WKCP's active role in building sustainable empowerment.
Kata Kunci : Strategi pemberdayaan, disabilitas, cerebral palsy, Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP).