Laporkan Masalah

Kajian Delimitasi Batas Maritim antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand dengan Pendekatan Tiga Tahap

Dimas Aldy Yuditama, Ir. I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D.

2025 | Skripsi | TEKNIK GEODESI

Selat Malaka merupakan perairan strategis dengan lebar kurang dari 400 mil laut dan berbatasan langsung dengan 3 negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya tumpang tindih pada klaim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) ketiga negara, mencakup area seluas 252.310,559 km2. Untuk  Penyelesaian delimitasi dilakukan secara bertahap melalui bilateral antar pasangan negara, dilanjutkan dengan penetapan titik temu tiga batas (trijunction point) secara trilateral dengan metode pendekatan tiga tahap.

Pendekatan tiga tahap dimulai dengan penarikan garis batas sementara ekuidistan. Tahap betikutnya adalah modifikasi garis berdasarkan faktor-faktor relevan seperti keberadaan pulau-pulau kecil. Tahapan terakhir adalah uji disproporsionalitas untuk menilai keadilan hasil delimitasi. Dalam prosesnya dilakukan analisis terhadap titik pangkal yang diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Modifikasi garis batas ada pada wilayah Pulau Jarak dan Pulau Perak yang dimiliki Negara Malaysia, serta Pulau Ko Racha Yai, Pulau Ko Adang, dan Pulau Ko Lipe milik Negara Thailand. 

Dari hasil delimitasi, diperoleh wilayah ZEE untuk masing-masing negara dengan Indonesia seluas 92.560,67 km2, Malaysia 37.043,40 km2, dan Thailand 51.499,24 km2. Jika dibandingkan dengan klaim awal Indonesia mengalami pengurangan seluas 14.247,61 km², Malaysia 19.762,53 km², sedangkan Thailand justru mengalami penambahan seluas 2.089,3 km². Kemudian dengan menggabungkan hasil delimitasi ZEE ketiga negara tersebut dapat diperoleh trijunction point pada koordinat 5°27'45.7690"N dan 98°52'5.2185"E.


The Malacca Strait is a strategic waterway less than 400 nautical miles wide, bordering three countries: Indonesia, Malaysia, and Thailand. This situation has led to overlapping claims of Exclusive Economic Zones (EEZ) by the three countries, covering an area of 252,310.559 km2. The delimitation process is carried out in stages through bilateral agreements between pairs of countries, followed by the establishment of a tri-junction point through trilateral negotiations using a three-stage approach.
The three-stage approach begins with the drawing of a temporary equidistant boundary line. The next stage involves modifying the line based on relevant factors such as the presence of small islands. The final stage involves a disproportion test to assess the fairness of the delimitation results. During the process, an analysis is conducted on the baseline points officially recognized by the United Nations (UN). Boundary line modifications are made in the areas of Pulau Jarak and Pulau Perak, which are owned by Malaysia, as well as Pulau Ko Racha Yai, Pulau Ko Adang, and Pulau Ko Lipe, which are owned by Thailand.
From the delimitation results, the EEZ areas for each country were determined, with Indonesia covering 92,560.67 km², Malaysia 37,043.40 km², and Thailand 51,499.24 km². Compared to the initial claims, Indonesia experienced a reduction of 14,247.61 km², Malaysia 19,762.53 km², while Thailand saw an increase of 2,089.3 km². By combining the delimitation results of the EEZs of the three countries, a trijunction point can be obtained at coordinates 5°27'45.7690“N and 98°52'5.2185”E.

Kata Kunci : Indonesia, Malaysia, Thailand, Zona Ekonomi Eksklusif, Selat Malaka, Pendekatan Tiga Tahap.

  1. S1-2025-473725-abstract.pdf  
  2. S1-2025-473725-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-473725-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-473725-title.pdf