PENGEMBANGAN PRODUK WAJAN ALUMINIUM MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DAN EVALUASI PRIORITAS PERBAIKANNYA BERDASARKAN BENEFIT COST RATIO (BCR) (Studi Kasus : IKM Logam Aluminium di Yogyakarta)
Yoshi Monica Perwitasari Budiyasa, Prof. Ir. Nur Aini Masruroh, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng
2012 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRIPersaingan dalam industri peralatan masak tidak hanya berupa persaingan dalam harga saja tetapi juga dalam hal inovasi produk. Konsekuensi pemilihan suatu inovasi produk berdampak pada kemungkinan investasi yang tidak sebanding dengan benefit yang diperoleh. Pada kasus produk alat masak seperti wajan IKM Logam Aluminium Yogyakarta, keputusan perbaikan dan pengembangan produk dilakukan berdasarkan hasil kebutuhan teknis dari QFD dengan mempertimbangkan faktor Benefit Cost Ratio. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apa saja atribut-atribut perbaikan kualitas wajan dan kebutuhan teknisnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Mengetahui urutan prioritas kebutuhan teknis berdasarkan hasil dari QFD dan BCR serta kelayakannya secara analisis ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode QFD dalam proses pengembangan produk dengan menerjemahkan kebutuhan dan keinginan konsumen kedalam rancangan produk. Hasil dari QFD yang berupa kebutuhan teknis produk akan dievaluasi menggunakan metode BCR. BCR merupakan suatu metode terstruktur untuk membandingkan manfaat dan biaya sehingga dapat dinilai efisien atau tidak suatu usulan program. Melalui kebutuhan teknis hasil QFD didapat beberapa usulan perbaikan yang mungkin dilakukan sesuai kemampuan perusahaan. Selanjutnya dilakukan analisis BCR untuk mengetahui layak tidaknya kebutuhan teknis itu dikembangkan dari segi finansial dan apakah inovasi yang dilakukan menghasilkan benefit yang sesuai. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui atribut-atribut yang dapat digunakan untuk perbaikan kualitas wajan sesuai dengan keinginan konsumen, yaitu: Harga wajan, kekuatan wajan, keawetan wajan, kinerja pemanasan, wajan anti lengket, wajan mudah dibersihkan, kenyamanan penggunaan, keamanan penggunaan, wajan multi fungsi, serta, keindahan tampilan. Kebutuhan teknis hasil metode QFD adalah: pelapisan ceramic, kualitas bahan (tensile: ±78 MPa), desain bentuk dan warna, standar harga Rp. 75.000 – Rp. 85.000, ketebalan 3mm – 5mm , casting. Hasil evaluasi BCR pada tiap kebutuhan teknis adalah: pelapisan ceramic 1,056 desain bentuk dan warna 1,052 ketebalan 3mm – 5mm 1,031 kualitas bahan (tensile: ±78 MPa) 1,022 standar harga Rp. 75.000 – Rp. 85.000 1,015, dan casting 0,990.Dari penelitian ini didapatkan urutan prioritas kebutuhan teknis hasil QFD berupa: pelapisan ceramic, kualitas bahan (tensile: ±78 MPa), desain bentuk dan warna, standar harga Rp. 75.000 – Rp. 85.000, ketebalan 3mm – 5mm, casting. Sedangkan berdasarkan evaluasi BCR urutan prioritasnya adalah: pelapisan ceramic, desain bentuk dan warna, ketebalan 3mm – 5mm, kualitas bahan (tensile: ±78 MPa), standar harga Rp. 75.000 – Rp. 85.000, dan casting. Sesuai dengan hasil analisis Benefit Cost Ratio, maka hanya kebutuhan teknis casting yang tidak layak untuk dikembangkan karena memiliki nilai BCR <1.
Kata Kunci : BCR, Pengembangan Produk, QFD, Wajan