Negara dan Budaya dalam Konstruksi Perempuan Ideal: Studi Perbandingan terhadap Peran Perempuan di Korea Selatan dan Laos
Nadia Rahmasari Putri, Muhammad Rum, S.I.P., I.M.A.S., Ph.D.
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Riset komparatif ini bertujuan untuk memahami bagaimana mekanisme negara dan budaya membentuk konstruksi sosial tentang perempuan "ideal" di Korea Selatan dan Laos, dua negara dengan latar belakang budaya, sistem ideologi-politik, dan ekonomi yang berbeda. Korea Selatan yang berideologi demokrasi liberal-kapitalisme memiliki struktur masyarakat yang ditopang oleh nilai-nilai konfusianisme. Sementara itu, Laos yang berideologi sosialisme-komunisme memiliki struktur masyarakat yang diatur oleh Buddhisme Theravada. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme dan metode analisis Most Different System Design (MDSD), riset ini menemukan kemiripan pola yang mempertahankan dan mereproduksi struktur patriarkat modern melalui: (1) peran aktif negara dalam mendefinisikan konsep perempuan ideal, (2) konstruksi moralitas perempuan modern sebagai "ibu pekerja" yang menormalisasi beban ganda, (3) minimnya ruang bagi agensi perempuan untuk menegosiasikan norma hegemonik. Pola ini dipengaruhi oleh budaya dan negara, sebagai faktor utama yang mempengaruhi konstruksi gender, dengan menciptakan pemaknaan ideal terhadap perempuan melalui serangkaian kebijakan institusional dan narasi budaya. Budaya menjadi instrumen hegemonik dan justifikasi ideologis yang mengkonstruksi kerangka moralitas gender, sementara negara menjadi aktor yang secara aktif mengkonstruksi ulang norma gender global agar selaras dengan kepentingan domestik. Oleh karena itu, tanpa adanya transformasi kultural dan struktural yang menyeluruh, implementasi agenda kesetaraan gender internasional cenderung hanya bersifat simbolik dan tidak menyentuh akar permasalahan struktural patriarki.
This comparative research aims to examine how the mechanism of state and culture shape the social construction of “ideal” women in South Korea and Lao PDR, two countries with different cultural backgrounds and ideological-political and economic systems. South Korea, as a liberal-democratic and a capitalist country, is socially structured around Confucian values. In contrast, Lao PDR follows a socialist-communist ideological framework and is socially oriented by the teachings of Theravada Buddhism. Using a constructivist approach and the Most Different System Design (MDSD) analytical method, this research finds similiar patterns that both maintain and reproduce modern patriarchal settings through: (1) the active role of state in defining the concept of ideal woman, (2) the construction of modern women's morality as ”working mothers” that normalizes the double burden, and (3) severely limited room for women to exercise agency in challenging hegemonic gender norms. This pattern is mainly influenced by culture and the state, as primary factors influencing gender constructions, creating the ideal meaning of women through a series of institutional policies and cultural narratives. Culture becomes a hegemonic instrument that constructs the moral framework and ideological justification of gender, while the state becomes an actor that actively reconstructs global gender discourses to align with domestic interest. Therefore, without a comprehensive cultural and structural transformation, the implementation of international gender equality agendas is likely to remain symbolic and fail to address the structural roots of patriarchy.
Kata Kunci : Negara, budaya, konstruktivisme, Most Different System Design (MDSD), Korea Selatan, Laos, Konfusianisme, Buddhisme Theravada, patriarki