Mewakili Sikap Kemanusiaan: Analisis Wacana Tiga Dimensi terhadap Pidato Retno Marsudi pada Sidang Umum PBB ke-79
Qudsi Mutiara Romadhon, Nabilla Kusuma Vardhani, S.I.P., M.A.
2025 | Tugas Akhir | D4 BAHASA INGGRIS
Penelitian ini mengkaji bagaimana keberpihakan Indonesia terhadap isu kemanusiaan dibangun dan dikomunikasikan dalam wacana politik melalui pidato, dengan fokus pada pidato terakhir Retno Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri di sesi debat Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-79. Dengan menerapkan kerangka analisis wacana model tiga-dimensi dari Fairclough penelitian ini menganalisis pidato pada tiga level: tekstual (kosakata dan tata bahasa), praktik wacana (konteks dan intertektualitas), serta praktik sosial-budaya (konteks ideologis and geopolitik yang lebih luas). asil analisis menunjukkan bahwa pilihan bahasa—seperti repetisi, ekspresi emosional, dan referensi intertekstual—digunakan secara strategis untuk merepresentasikan komitmen Indonesia terhadap keadilan, khususnya terkait isu Palestina. Pidato tersebut memadukan konvensi diplomatik dengan daya persuasi emosional dan narasi antikolonial untuk memosisikan Indonesia sebagai aktor kemanusiaan yang konsisten dan bermoral tinggi. Lebih jauh, penelitian ini menunjukkan bahwa wacana berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai kekuatan lunak (soft power) yang memperkuat identitas nasional, mengkritik ketidakaktifan institusi internasional, dan mendorong solidaritas global. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian linguistik terapan, khususnya dalam memahami strategi komunikasi diplomatik dalam hubungan internasional.
This study investigates how Indonesia’s ideological stance on humanitarian issues is constructed and communicated through political discourse, focusing on Retno Marsudi’s final speech as Foreign Minister at the 79th United Nations General Debate. Using Fairclough’s three-dimensional model, this research analyzes speech at three levels: textual (vocabulary, grammar, and modality), discourse practice (context and intertextuality), and sociocultural practice (broader ideological and geopolitical context). The study highlights how linguistic choices—such as repetition, expressive modality, and intertextual references—are strategically employed to represent Indonesia’s commitment to justice, particularly regarding the Palestinian cause. The findings reveal that Marsudi’s speech blends diplomatic conventions with emotionally charged appeals and anti-colonial framing to position Indonesia as a morally assertive and consistent humanitarian actor. Furthermore, the analysis shows how discourse functions not only as a communicative tool but as a form of soft power that reinforces national identity, challenges institutional inaction, and promotes global solidarity. This research contributes to applied linguistics by demonstrating how language operates as a strategic tool in public diplomacy and international relations, offering insight for future diplomatic communication practices.
Kata Kunci : Fairclough’s three-dimensional model, political speech, Retno Marsudi, Indonesia representation