Laporkan Masalah

Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian Menjadi Nonpertanian dan Kesesuaiannya dengan Tata Ruang di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul

Laila Putri Rachmayani, Mohammad Isnaini Sadali, S.Si., M.Sc.

2025 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH

Kapanewon Kasihan berdasarkan RDTR-PZ Bagian Wilayah Perkotaan Kasihan tahun 2018 – 2038 ditetapkan sebagai kawasan perkotaan yang memiliki pertanian sekitar 25?ri total luas wilayahnya. Namun, seiring dengan adanya proses urbanisasi dan meningkatnya kebutuhan akan lahan memicu terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan lahan pertanian tahun 2014 dan 2024 di Kapanewon Kasihan, menganalisis perubahan pengunaan lahan pertanian menjadi nonpertanian di Kapanewon Kasihan, dan menganalisis kesesuaian perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi nonpertanian terhadap RDTR-PZ Bagian Wilayah Perkotaan Kasihan 2018 – 2038. 
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis spasial dan analisis deskriptif. Analisis spasial dilakukan menggunakan citra satelit tahun 2014 dan 2024 dari Maxar Technologies dan Airbus yang diinterpretasi untuk mengidentifikasi penggunaan lahan pertanian di Kapanewon Kasihan. Perubahan penggunaan lahan dianalisis menggunakan teknik overlay, sedangkan pola sebaran penggunaan dan perubahan lahan pertanian dianalisis menggunakan Nearest Neighbor Analysis. Selanjutnya, hasil analisis tersebut dilakukan overlay dengan RDTR-PZ Bagian Wilayah Perkotaan Kasihan tahun 2018–2038 untuk menilai kesesuaian perubahan lahan. Analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan hasil interpretasi dan pengolahan data.
Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan lahan pertanian di Kapanewon Kasihan tahun 2014 – 2024 mengalami penurunan lahan pertanian sebesar 77,20 ha yang disebabkan oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian. Alih fungsi lahan terbesar terjadi pada lahan pertanian menjadi perdagangan dan jasa sebesar 34,75 ha serta lahan pertanian menjadi perumahan kepadatan sedang sebesar 31,18 ha. Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian terhadap rencana tata ruang, sebagian besar perubahan penggunaan lahan pertanian adalah kategori sesuai sebesar 48,08 ha. Namun, terdapat 15,87 ha yang kurang sesuai dan 14,29 ha yang tidak sesuai terjadi pada penggunaan lahan perumahan kepadatan sedang dan perdagangan dan jasa di lahan pertanian tanaman pangan yang dapat mempengaruhi aktivitas dan ketersediaan lahan pertanian.

Based on the Detailed Spatial Plan-Zoning Regulation (RDTR-PZ) of the Urban Area of Kasihan 2018 – 2038, Kapanewon Kasihan is designated as an urban area with approximately 25% of its total land area allocated for agriculture. However, urbanization and the increasing demand for land have triggered the conversion of agricultural land into non-agricultural uses. This study aims to describe agricultural land use in Kapanewon Kasihan in 2014 and 2024, analyze the changes in agricultural land use to non-agricultural purposes, and assess the suitability of these changes with RDTR-PZ of the Urban Area of Kasihan 2018 – 2038.

This study employs a quantitative approach using spatial analysis and descriptive analysis methods. Spatial analysis is conducted using satellite imagery from 2014 and 2024 provided by Maxar Technologies and Airbus, which is interpreted to identify agricultural land use in Kapanewon Kasihan. Land use changes are analyzed using the overlay technique, while the spatial distribution patterns of agricultural land use and its conversion are examined using Nearest Neighbor Analysis. Furthermore, the analysis results are overlaid with the RDTR-PZ of the Urban Area of Kasihan 2018 – 2038 to assess the conformity of land use changes. Descriptive analysis is used to explain the results of data interpretation and processing.

The results show that agricultural land in Kapanewon Kasihan decreased by 77,20 hectares from 2014 to 2024 due to conversion to non-agricultural uses. The largest conversions were from agricultural land to commercial areas (34,75 ha) and to medium-density housing (31,18 ha). Based on the spatial plan evaluation, most changes are categorized as suitable (48,08 ha). However, 15,87 hectares are less suitable, and 14,29 hectares are not suitable according to the spatial planning guidelines, occurring in medium-density housing and commercial areas that encroached on food-producing agricultural land, which may affect both agricultural activities and the availability of productive farmland.

Kata Kunci : perubahan penggunaan lahan, pertanian, lahan nonpertanian, kesesuaian tata ruang

  1. S1-2025-482556-abstract.pdf  
  2. S1-2025-482556-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-482556-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-482556-title.pdf