Longsoran Puing Gunungapi di Pulau Jawa: Karakteristik Morfologi dan Implikasinya Terhadap Bahaya Gunungapi Terkini
Agus Jaiz Hamdani, Dr. Mukhamad Ngainul Malawani, S.Si., M.Sc.
2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN
Longsoran
puing gunungapi (VDA) adalah salah satu bahaya vulkanik yang bersifat
destruktif. Sementara itu, Pulau Jawa adalah salah satu pulau utama di
Indonesia dengan 46 gunungapi kuarter. Longsoran puing gunungapi belum menjadi
perhatian utama dalam pengelolaan risiko bencana karena tetapi probabilitas
kejadiannya sangat kecil yang dibuktikan dari sedikitnya informasi VDA dalam
peta Kawasan Rawan Bencana (KRB). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi dan mengukur morfologi longsoran puing gunungapi,
khususnya pada bekas longsoran gunungapi (VLS) dan endapan longsoran puing
gunungapi (VDAD) di Pulau Jawa. Hasil identifikasi dan pengukuran tersebut
kemudian diintegrasikan dengan peta KRB gunungapi untuk meningkatkan
kewaspadaan terhadap bahaya sekunder ini.
Identifikasi
morfologi dilakukan dengan memanfaatkan Digital Elevation Model Nasional
(Demnas) beresolusi ~8 meter, yang didukung oleh peta geologi, citra satelit
resolusi tinggi dari Google Earth, serta referensi terkait kejadian VDA di
Pulau Jawa. Proses analisis mencakup identifikasi morfografi dan pengukuran
morfometri terhadap bekas longsoran (VLS) dan endapan longsoran puing (VDAD)
untuk memperoleh karakteristik morfologi VDA. Selanjutnya, hasil karakterisasi
tersebut diintegrasikan dengan zonasi pada peta KRB untuk mengevaluasi tingkat
keterwakilan potensi VDA dalam peta bahaya gunungapi yang ada.
Sebanyak
36 bekas longsoran dan 22 endapan longsoran puing berhasil diidentifikasi dari
27 gunungapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VLS di Pulau Jawa memiliki
variasi bentuk yang didominasi oleh morfografi tapal kuda dan bentuk U dengan
median sudut bukaan sebesar 35°. Sementara itu, morfologi VDAD menunjukkan
dominasi bentuk memanjang dan kipas dengan jarak luncur bervariasi antara 0,27
hingga 13,4 km dan rasio H/L berkisar 0,08–0,38. Hasil perbandingan morfologi
VDA dengan peta KRB menunjukkan bahwa sebagian besar peta KRB di Pulau Jawa
belum mencantumkan potensi bahaya VDA secara eksplisit, kecuali pada beberapa
gunungapi seperti Gede, Papandayan, dan Guntur. Integrasi informasi morfometri
VLS dan VDAD ke dalam peta KRB dapat memperkuat kesadaran risiko tanpa menambah
zona KRB baru, melainkan sebagai informasi tambahan terutama untuk KRB III dan
II. Langkah ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan
masyarakat, terutama pada gunungapi bertipe A.
Volcanic debris avalanches (VDA) are
one of the most destructive types of volcanic hazards. Meanwhile, Java Island
is one of the main islands in Indonesia, hosting 46 Quaternary volcanoes.
Despite their potential danger, VDAs have not received sufficient attention in
disaster risk management due to their low recurrence probability, as evidenced
by the limited inclusion of VDA information in official Volcanic Hazard Maps.
Therefore, this study aims to identify and measure the morphology of volcanic
debris avalanches, focusing specifically on volcanic landslide scars (VLS) and
volcanic debris avalanche deposits (VDAD) in Java. The results of the
morphological identification and measurements are then integrated with existing
KRB maps to enhance awareness of this secondary hazard.
Morphological identification was
carried out using the National Digital Elevation Model (Demnas) with ~8-meter
resolution, supported by geological maps, high-resolution satellite imagery
from Google Earth, and references related to previous VDA occurrences in Java.
The analysis included both morphographic identification and morphometric
measurements of VLS and VDAD to determine their morphological characteristics.
These results were then integrated with KRB zonation to evaluate the extent to
which current hazard maps reflect the spatial distribution of potential VDA
impacts.
A total of 36 scars and 22 debris
avalanche deposits were identified across 27 volcanoes. The results show that
VLS in Java exhibit varying shapes, predominantly horseshoe and U-shaped
morphologies, with a median opening angle of 35°. VDAD morphologies are mostly
elongated or fan-shaped, with runout distances ranging from 0.27 to 13.4 km and
H/L ratios between 0.08 and 0.38. The comparison with existing KRB maps reveals
that most do not explicitly account for VDA hazards, except in a few volcanoes
such as Gede, Papandayan, and Guntur. Integrating morphometric information of
VLS and VDAD into KRB maps, particularly as additional information in Zones II
and III, can enhance risk awareness without requiring new hazard zones. This
approach is essential for improving preparedness, especially around type-A
volcanoes with a known history of sector collapse.
Kata Kunci : longsoran gunungapi, morfologi, kawasan rawan bencana, Pulau Jawa