Konflik Pemanfaatan Lahan Antara Masyarakat Dan Aktivis Pengelola Sampah Studi Kasus: Tps Liar Pondok Ranji
Muhammad Faishal Daffa, Prof. Drs. Torontuan Keban Yeremias, S.U., MURP., Ph.D.
2025 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Konflik sering terjadi dan tidak pernah terpisahkan dalam kehidupan masyarakat diakibatkan adanya gesekan sosial maupun perbedaan kepentingan dari masing-masing aktor salah satunya seperti konflik pengelolaan sampah mandiri di Pondok Ranji. Dalam konflik ini melibatkan berbagai aktor seperti aktivis pengelola sampah, masyarakat setempat, organisasi masyarakat (ormas), dan pemerintah sebagai mediator dalam menengahi dan mengelola konflik yang terjadi. Penelitian ini bertujuan menelisik faktor penyebab terjadinya konflik dengan memetakan aktor aktor yang terlibat ke dalam analisis stakeholders dan menguraikan fase-fase konflik dalam bentuk narasi sehingga terbentuklah dinamika konflik yang dapat mengetahui akar dari penyebab terjadinya konflik. Metodologi yang digunakan dalam penelitian yaitu pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dengan melakukan wawancara sebagai data primer dan didukung artikel literatur jurnal, artikel berita, serta dokumentasi foto sebagai data sekunder.
Hasil penelitian menujukkan bahwa faktor penyebab terjadinya konflik di Pondok Ranji disebabkan oleh faktor kebutuhan manusia yang dialami oleh aktor stakeholders primer dan kegagalan negoisasi prinsip yang terjadi pada aktor-aktor di internal aktivitas pengelolaan sampah mandiri yang tidak dapat dicapai atas perbedaan kepentingannya masing-masing aktor. Hal tersebut peran pemerintah dibutuhkan untuk mediasi konflik tersebut agar dapat dikelola dengan baik sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan negoisasi dan partipasi aktor yang terdampak.
Conflict is a frequent and inseparable occurrence in community life, often arising from social frictions or differences in interests among various actors. One such example is the conflict over independent waste management in Pondok Ranji. This conflict involves several actors, including environmental activists managing the waste, local residents, community organizations (ormas), and the government, which acts as a mediator to resolve and manage the conflict. This study aims to investigate the root causes of the conflict by mapping the involved actors through stakeholder analysis and describing the phases of the conflict in a narrative form, thereby illustrating the dynamics of the conflict to identify its underlying causes. The research methodology used is a qualitative approach with a case study method, employing interviews as the primary data source, supported by literature reviews from journals, news articles, and photo documentation as secondary data.
The findings indicate that the conflict in Pondok Ranji was driven by human needs experienced by the primary stakeholders and the failure of principled negotiation among internalactors involved in the independent waste management activities. These actors were unable to reach an agreement due to differing interests. As a result, the government's role is crucial in mediating the conflict so that it can be properly managed and resolved through negotiation and the participation of all affected actors.
Kata Kunci : Konflik, Pengelolaan Sampah, Dinamika Konflik, Kepentingan, Stakeholders.