Pemanfaatan Mosaik Foto Udara untuk Analisis Autokorelasi Spasial Kepadatan Bangunan dan Kerapatan Ruang Terbuka Hijau Terhadap Kondisi Iklim Mikro di Kecamatan Magelang Selatan
Linggar Putra Pamungkas, Dr. Iswari Nur Hidayati, S.Si., M.Sc.
2025 | Skripsi | KARTOGRAFI DAN PENGINDRAAN JAUH
Perubahan lingkungan mikro di kawasan perkotaan
kerap kali dipengaruhi oleh struktur spasial permukiman, seperti kepadatan
bangunan dan kerapatan ruang terbuka hijau (RTH). Penelitian ini bertujuan
untuk (1) memanfaatkan mosaik foto udara untuk memetakan hubungan antara
kepadatan bangunan dan kerapatan RTH terhadap kondisi iklim mikro, serta (2)
menganalisis hubungan spasial antara kepadatan bangunan dan kerapatan RTH
terhadap kondisi iklim mikro di Kecamatan Magelang Selatan. Data utama yang
digunakan berupa mosaik foto udara dengan resolusi spasial 4,9 cm, yang
diinterpretasikan secara visual untuk mengklasifikasikan objek atap bangunan
dan vegetasi pada skala blok permukiman. Nilai akurasi interpretasi untuk strata
RTH mencapai 87,26%, menunjukkan keandalan data dalam analisis lanjutan.
Analisis
autokorelasi spasial bivariate menggunakan pendekatan Moran’s I
dilakukan untuk mengkaji hubungan spasial antara kepadatan bangunan dan
kerapatan RTH terhadap parameter iklim mikro, yaitu suhu udara, kelembapan
relatif, dan kecepatan angin. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepadatan
bangunan berkorelasi positif terhadap suhu dan negatif terhadap kelembapan
serta angin, sedangkan kerapatan RTH menunjukkan hubungan sebaliknya. Nilai
indeks Moran’s I yang diperoleh sebagian besar tergolong lemah, namun
pola penyebaran spasialnya tetap memberikan indikasi penting dalam penataan
ruang mikro. Berdasarkan hasil tersebut, rekomendasi penambahan RTH difokuskan
pada wilayah padat yang memiliki suhu tinggi dan kerapatan RTH rendah, dengan
pembagian prioritas berdasarkan hasil klasifikasi spasial menggunakan LISA bivariate.
Microclimate changes in urban areas are often
influenced by the spatial structure of settlements, such as building density
and the density of green open space. This study aims to (1) utilize aerial
photo mosaics to map the relationship between building density and green open
space density with microclimate conditions, and (2) analyze the spatial
relationship between building density and green open space density with
microclimate conditions in Magelang Selatan District. The primary dataset used
is a high-resolution aerial photo mosaic with a spatial resolution of 4.9 cm,
which was visually interpreted to classify rooftop and vegetation objects at
the residential block scale. The interpretation accuracy for green open space strata
reached 87.26%, indicating reliable data for further spatial analysis.
Bivariate spatial autocorrelation analysis
using the Moran’s I approach was conducted to examine the spatial relationship
between building density and green open space density with microclimate
parameters, including air temperature, relative humidity, and wind speed. The
results show that building density is positively correlated with temperature
and negatively correlated with humidity and wind speed, while green open space
density exhibits the opposite trend. Although most Moran’s I values indicate
weak spatial autocorrelation, the spatial distribution patterns still provide
meaningful insights for micro-scale spatial planning. Based on the results,
recommendations for adding green open space are focused on densely built-up
areas with high temperatures and low vegetation coverage, with prioritization
based on bivariate LISA spatial classification.
Kata Kunci : foto udara, kepadatan bangunan, kerapatan RTH, autokorelasi spasial, iklim mikro