Stateless Bodies: Unveiling Western Influences on Gender Representation in Mukokuseki through Postcolonial Feminism
Rifka Annisa Hakim, Dr. Atin Prabandari, SIP., M.A.(IR)
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Tesis ini menerapkan teori feminisme pascakolonial untuk mengkaji Mukokuseki (???, “statelessness”) dalam budaya populer Jepang, dengan argumen bahwa fenomena ini berfungsi sebagai instrumen strategis bagi pembentukan citra bangsa (nation branding) pascakolonial dan proyeksi kekuatan soft power Jepang. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan inti: (1) Bagaimana praktik Mukokuseki dalam media budaya populer Jepang membentuk representasi visual dan naratif yang tergenderisasi? (2) Bagaimana manifestasi pengaruh budaya Barat dalam media Mukokuseki bersinggungan dengan dinamika pascakolonial untuk menciptakan citra Jepang yang menarik secara global sekaligus mengabaikan sejarah imperialisme bangsa tersebut? Melalui analisis semiotika dan diskursus terhadap Sailor Moon dan Gundam, studi ini menunjukkan bagaimana Mukokuseki, sebagai penghapusan sengaja penanda etnis, budaya, dan kebangsaan, secara sistematis menghasilkan representasi tergenderisasi yang tunduk pada standar kecantikan Barat dan norma-norma patriarkal. Sebagai taktik inti Japanization pascaperang, Mukokuseki memanfaatkan "cultural odorlessness” untuk mengkomodifikasi tubuh-tubuh tanpa asal bagi pasar transnasional, dalam upaya membangun citra nasional yang mudah diterima, tidak mengancam, dan dapat dikonsumsi, yang terlepas dari sejarah imperialisme Jepang. Kajian ini menggunakan kerangka kerja para pemikir pascakolonial dan feminis untuk membedah fenomena Mukokuseki dan implikasinya dalam berbagai konteks.
This thesis employs postcolonial feminist theory to interrogate Mukokuseki (???, "statelessness") in Japanese popular culture, arguing it functions as a strategic instrument for Japan’s postcolonial nation-branding and soft power projection. The research addresses two central questions: (1) How does the practice of Mukokuseki in Japanese popular culture media shape gendered visual and narrative representations? (2) How do the manifestations of Western influence in Mukokuseki media intersect with postcolonial dynamics to construct a globally appealing image of Japan that omits the nation’s imperial history? Through semiotic and discourse analysis of Sailor Moon and Gundam, the study demonstrates how Mukokuseki, the deliberate erasure of ethnic, cultural, and national markers, systematically produces gendered representations conforming to Western beauty standards and patriarchal norms. As a core tactic of postwar Japanization, Mukokuseki leverages cultural odorlessness to commodify stateless bodies for transnational markets as an attempt to construct a palatable, non-threatening, and consumable national image devoid of Japan’s imperial legacy. This study employs frameworks from postcolonial and feminist scholars to unravel the phenomenon of Mukokuseki and its implications in multiple contexts.
Kata Kunci : Mukokuseki (???), Japanization, Postcolonial Feminism, Gender Representation, Soft Power, Cultural Erasure, Historical Negation, Epistemic Violence, Nation Branding