Laporkan Masalah

Karakteristik sosial ekonomi pedagang kaki lima di kalurahan Wonokromo, kecamatan Wonokromo kotamadya Surabaya

Henky Ismuhendro Setiawan, Dr. Ida Bagoes Mantra

1983 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Masalah yang timbul di negara sedang berkembang adalah kurangnya lapangan pekerjaan. Keadaan ini nampak, terutama di daerah pedesaan Jawa, karena lapangan pekerjaan di sektor pertanian sudah tidak mampu untuk menyerap tenaga kerja yang ada, di samping itu lapangan pekerjaan di luar bidang pertanianpun sulit didapat. Oleh sebab itu, banyak dari mereka meninggalkan daerah asal untuk mencari pekerjaan di daerah lain misalnya, bekerja sebagai pedagang kaki lima di kelurahan Wonokromo, kecamatan Wonokromo, Kotamadya Surabaya. Berdasarkan pada permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1. keadaan sosial ekonomi pedagang kaki lima; 2. kaitan sosial antar pedagang; 3. hubungan dengan daerah asal; dan 4. Alasan seseorang bekerja sebagai pedagang kaki lima. Penelitian ini dilaksanakan di kotamadya Surabaya. Adapun metode penelitian pemilihan daerah sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan daerah sampel kelurahan Wonokromo. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh pedagang kaki lima dengan jenis usaha makanan dan minuman, obat-obatan, pakaian, dan jasa. Pedagang kaki lima tersebut umumnya berasal dari luar kotamadya Surabaya. Mereka mondok di kelurahan wonokromo. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 152 responden yang terdiri dari 108 orang laki-laki (71,1 persen) dan 44 orang perempuan (28,9 persen). Latar belakang pendidikan mereka umumnya rendah, yaitu lebih dari separo (73,7 persen) tidak tamat dan tamat SD. Keadaan ekonomi di daerah asal yang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga, mendorong mereka untuk mencari nafkah ke kota. Kaitan sosial antar pedagang kaki lima diketahui dari hubungan dengan majikan, cara mendapatkan barang, dan hubungan dengan masyarakat. Dari 152 responden hanya ada 14 orang (9,2 persen) yang tergantung pada majikan, umumnya barang yang diperdagangkan berasal dari orang lain (79,0 persen), dan lebih dari separo (59,1 persen) menyatakan pernah ikut dalam kegiatan kerja bakti di wilayah mereka mondok. Hubungan dengan daerah asal dapat diketahui dari keperluan pulang ke daerah asal, yaitu lebih dari separo (65,0 persen) menyatakan untuk mengirim biaya hidup keluarga. Sedangkan alasan mereka bekerja sebagai pedagang kaki lima didapatkan lebih dari sepertiga (34,9 persen) mengatakan tidak ada pekerjaan lain di desa dan harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Jadi dari kenyataan di atas secara singkat dapat disimpulkan, bahwa alasan seseorang bekerja sebagai pedagang kaki lima disebabkan oleh keadaan yang terpaksa dalam arti tidak ada pekerjaan lain di desa, di samping harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dari keadaan tersebut memaksa seseorang untuk mencari pekerjaan di daerah lain dengan harapan segera mendapatkan pekerjaan, tetapi kenyataan yang mereka dapatkan lain, setelah mereka tiba di daerah tujuan (kota). Umumnya mereka tidak segera mendapatkan pekerjaan seperti yang dicita-citakan, hal ini disebabkan pendidikan serta keterampilan yang mereka miliki umumnya relatif rendah, sehingga untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya di daerah perkotaan, dengan modal uang yang mereka miliki, biasanya banyak dari mereka bekerja di sektor informal pada sub sektor perdagangan dengan bekerja sebagai pedagang kaki lima.

-

Kata Kunci : Karakteristik sosial ekonomi,pedagang kaki lima,Wonokromo,Surabaya,Jawa Timur

  1. S1-1983-1993-Abstract.pdf  
  2. S1-1983-1993-Complete-Blibliography.pdf  
  3. S1-1983-1993-TableofContent.pdf  
  4. S1-1983-1993-Title.pdf