ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DI ASIA TENGGARA SEBELUM DAN SAAT PERANG DAGANG AS DAN TIONGKOK 2016 - 2020 (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN SEKTOR ELEKTRONIK DAN MESIN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK)
Yovania Maria Angelita Panjaitan, Aprilia Beta Suandi, Dr., S.E., M.Ec.
2025 | Skripsi | AKUNTANSI
Perang Dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok pada tahun 2018 menyebabkan guncangan dalam perekonomian global, terutama bagi negara-negara yang terlibat dalam rantai pasokan global. Asia Tenggara, sebagai kawasan dengan potensi ekonomi dan industri yang besar, memiliki keterlibatan aktif dengan AS dan Tiongkok, dan diperkirakan akan mengalami dampak fenomena trade diversion sebagai pengganti partner impor dan ekspor bagi kedua negara tersebut. Negara-negara utama yang terfokus adalah Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan dan dampak kondisi Perang Dagang AS dan Tiongkok terhadap kinerja keuangan perusahaan sektor elektronik dan mesin di Asia Tenggara yang terdaftar di bursa efek selama periode 2016-2020. Kinerja keuangan perusahaan diukur dengan menggunakan variabel pengembalian aset (ROA), pengembalian ekuitas (ROE), dan rasio Tobin’s Q (Tobin’s Q). Dengan menggunakan data panel dari 110 perusahaan, penelitian ini menerapkan analisis statistik deskriptif dan model regresi linear berganda untuk mengkaji hubungan antara setiap variabel. Hasil analisis statistik deskriptif menggambarkan tren kinerja keuangan masing-masing negara, menunjukkan bahwa Indonesida dan Singapura mengalami stabilitas ekonomi, sementara Thailand dan Vietnam mengalami penurunan profitabilitas. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara lokasi negara tempat perusahaan beroperasi (COUNTRY) dan profitabilitas perusahaan. Indeks persepsi korupsi (CPI) dan periode waktu (PERIOD) juga menunjukkan hubungan signifikan negatif dengan profitabilitas perusahaan. Studi di masa depan disarankan untuk mengeksplorasi sektor perusahaan lainnya dan mempertimbangkan kondisi makroekonomi yang berbeda yang mungkin mempengaruhi hasilnya selama periode yang sama.
The trade war between the United States and China in 2018 caused disruptions in the global economy, particularly affecting countries involved in global value chains. Southeast Asia, as a region with significant economic and industrial potential, is actively engaged with both the U.S. and China and is expected to experience the effects of trade diversion, serving as a substitute trading partner for imports and exports between the two powers. Key countries in focus include Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand, and Vietnam. This study aims to investigate the relationship and impact of the U.S.-China trade war on the financial performance of electronics and machinery sector companies in Southeast Asia that are listed on stock exchanges during the period 2016–2020. Financial performance is measured using variables such as Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), and Tobin’s Q ratio. Utilizing panel data from 110 companies, this research employs descriptive statistical analysis and multiple linear regression models to analyze the relationships among variables. Descriptive statistics reveal performance trends for each country, showing that Indonesia and Singapore maintained economic stability, while Thailand and Vietnam experienced a decline in profitability. Furthermore, the study finds a significant relationship between the country in which a company operates (COUNTRY) and its profitability. The Corruption Perceptions Index (CPI) and time period (PERIOD) also show a significant negative relationship with firm profitability. Future research is recommended to explore other industry sectors and take into account additional macroeconomic conditions that may have occurred during the same period.
Kata Kunci : Perang Dagang AS-Tiongkok, trade-diversion, kinerja keuangan, sektor elektronik dan mesin, Asia Tenggara, profitabilitas, corruption perception index.