Laporkan Masalah

Authorial Identity by Indonesian Scholars in English Research Articles

Titah Afandi, Dr. Adi Sutrisno, M.A.

2025 | Tesis | S2 Linguistik

Penanda metadiskursus, fitur kebahasaan yang digunakan untuk menciptakan teks komunikatif dengan membangun hubungan antara penulis dan pembaca, menyampaikan sikap (stance) dan keterlibatan (engagement) penulis, yang pada akhirnya membentuk suara (voice) mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap identitas kepenulisan para akademisi Indonesia dalam artikel penelitian linguistik terapan berbahasa Inggris dengan menganalisis penanda metadiskursus yang mereka gunakan.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis dokumen. Sumber data berasal dari artikel ilmiah berbahasa Inggris dalam bidang linguistik terapan yang ditulis oleh akademisi Indonesia dan terindeks Scopus. Sketch Engine, sebuah perangkat analisis korpus, digunakan untuk memperoleh data berupa kata atau frasa yang termasuk dalam penanda metadiskursus. Dalam analisis data, teori metadiskursus dari Hyland digunakan untuk mengidentifikasi kata atau frasa yang termasuk dalam penanda sikap dan keterlibatan. Selanjutnya, data dikategorikan berdasarkan aspek suara (voice) yang diadaptasi dari teori Kobayashi dan Rinnert untuk menentukan tingkat identitas kepenulisan.

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan penanda sikap dan keterlibatan yang tidak seimbang oleh akademisi Indonesia. Mereka lebih dominan menggunakan penanda sikap dibandingkan penanda keterlibatan. Dominasi penanda sikap atas keterlibatan merupakan ciri umum dalam penulisan akademik. Berdasarkan analisis penanda sikap, para akademisi Indonesia lebih memilih menggunakan hedges dibandingkan penanda sikap lainnya seperti boosters, attitude markers, dan self-mentions. Sementara itu, dalam analisis penanda keterlibatan, mereka sering menggunakan directives dan jarang menggunakan pertanyaan retoris. Meskipun demikian, tulisan akademik mereka tetap memenuhi seluruh kriteria aspek suara, yang mengarah pada tingkat identitas kepenulisan ‘mature’. Beberapa faktor mendasari fenomena ini, yaitu faktor budaya, pendidikan, dan disiplin ilmu. Dari segi budaya, mereka cenderung menggunakan kata ganti orang pertama jamak karena budaya Indonesia mengedepankan kolektivisme. Terkait latar belakang pendidikan, penekanan pada objektivitas tinggi dan keterlibatan pembaca yang terbatas dalam tulisan mereka mungkin mencerminkan tingkat pemahaman yang beragam terhadap konvensi akademik internasional. Sementara itu, jika ditinjau dari faktor disiplin ilmu, ilmu sosial-humaniora (soft sciences) cenderung menggunakan penanda metadiskursus yang membuat pernyataan penulis terdengar wajar dan akrab, misalnya dominasi sub-kategori kondisi rutin dalam knowledge appeals.

Metadiscourse markers, language features to create communicative texts by constructing the writer-reader relationship, convey the writer’s stance and engagement, which lead to their voices. This study aims to uncover the authorial identity of Indonesian scholars in English applied linguistic research articles by analyzing the metadiscourse markers they employ.

A qualitative research design was employed in this study, using the document analysis approach. The data sources are Scopus-indexed English research articles written by Indonesian scholars in applied linguistics. Sketch Engine, a corpus analysis toolkit, was used to obtain data in the form of words or phrases included in metadiscourse markers. In data analysis, Hyland’s metadiscourse theory was applied to obtain words or phrases that belong to stance and engagement markers. The data was then categorized based on voice aspects adopted from Kobayashi and Rinnert’s theory to decide the level of authorial identity.

The results show Indonesian scholars' imbalanced use of stance and engagement markers. They dominantly employed stance markers over engagement markers. The predominance of stance markers over engagement markers is common in academic writing. Based on the stance marker analysis, Indonesian scholars prefer to use hedges over other stance markers—boosters, attitude markers, and self-mentions. Meanwhile, in engagement marker analysis, they often employed directives and rarely employed rhetorical questions. Nevertheless, their academic writing still met all voice aspect criteria, which led to the ‘mature’ level of authorial identity. Several factors underlie this phenomenon, namely cultural, educational, and disciplinary factors. Regarding cultural factors, they tend to use first-person plural pronouns because Indonesian culture prioritizes collectivism. Regarding their educational background, the emphasis on high objectivity and limited reader engagement in their writing may reflect varying degrees of familiarity with international academic conventions. Meanwhile, viewed from the discipline factor, soft sciences tend to use metadiscourse markers that make writers’ statements reasonable and familiar, e.g., the dominance of the routine condition sub-category of knowledge appeals.

Kata Kunci : metadiscourse markers, authorial identity, research articles, applied linguistics, Indonesian scholars

  1. S2-2025-526079-abstract.pdf  
  2. S2-2025-526079-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-526079-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-526079-title.pdf