Laporkan Masalah

Maskulinitas dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

Lazuardi Choiri Imani, Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum.

2025 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIA

Karya sastra mengungkit realitas yang terjadi pada tatanan masyarakat. Salah satunya adalah bagaimana masyarakat memandang laki-laki dan membentuk sebuah citra yang diidealkan dan diinternalisasi yang jika tidak dapat memenuhinya, seorang laki-laki tidak dapat disebut sebagai laki-laki. Hal inilah yang diungkit dalam novel Orang-Orang Proyek. Novel ini menyoroti dinamika kompleks mengenai laki-laki dan narasi maskulinitas dalam kultur Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk maskulinitas hegemonik dan subordinat dalam novel tersebut.

R. W. Connell menggunakan maskulinitas hegemonik sebagai praktik gender yang digunakan untuk menjamin dominasi patriarki. Kajian tersebut digunakan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk maskulinitas hegemonik dan subordinat yang dimuat pada narasi dalam novel Orang-Orang Proyek yang disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya serta latar waktu peristiwa novel ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi data-data dalam novel untuk kemudian dibandingkan dengan praktik maskulinitas yang ada pada masyarakat Jawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Orang-Orang Proyek memuat sejumlah narasi yang mengindikasikan bentuk-bentuk maskulinitas hegemonik dan subordinat pada masyarakat di sekitar Sungai Cibawor. Maskulinitas hegemonik diidentifikasi melalui sifat-sifat seperti pengendalian diri, kepemimpinan, berjiwa kesatria, dan kejantanan yang ditemukan pada tokoh Kabul, Pak Tarya, dan Basar. Di sisi lain, maskulinitas subordinat diidentifikasi melalui sifat-sifat seperti agresivitas dan ketidakmampuan untuk mengendalikan diri yang ditemukan pada Dalkijo, Martasatang, Yos, dan Pak Tarya. Namun, adanya kedua maskulinitas tersebut menghadirkan ruang negosiasi yang membuat relasi maskulinitas tersebut lebih dinamis. 

Literary works highlight the realities of social order. One example is how society views men and forms an idealized and internalized image, which, if not fulfilled, cannot be called a man. This is the issue raised in the novel Orang-Orang Proyek. This novel highlights the complex dynamics of men and narratives of masculinity in Javanese culture. This study aims to identify the forms of hegemonic and subordinate masculinity in the novel. 

R. W. Connell uses hegemonic masculinity as a gender practice used to ensure patriarchal domination. This study is used to identify the forms of hegemonic and subordinate masculinity contained in the narrative of the novel Orang-Orang Proyek, adjusted to the social and cultural context and the time setting of the novel. This study uses a descriptive-analytical method to identify data in the novel to then compare it with existing masculinity practices in Javanese society. 

The results of the study show that the novel Orang-Orang Proyek contains several narratives that indicate forms of hegemonic and subordinate masculinity in the community around the Cibawor River. Hegemonic masculinity is identified through traits such as self-control, leadership, chivalry, and virility found in the characters Kabul, Pak Tarya, and Basar. On the other hand, subordinate masculinity is identified through traits such as aggressiveness and inability to control oneself found in Dalkijo, Martasatang, Yos, and Pak Tarya. However, the existence of both masculinities creates a space for negotiation that makes the relationship between these masculinities more dynamic.

Kata Kunci : Ahmad Tohari, maskulinitas hegemonik, Orang-Orang Proyek, R.W. Connell

  1. S1-2025-477111-abstract.pdf  
  2. S1-2025-477111-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-477111-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-477111-title.pdf