HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN KEJADIAN DISLIPIDEMIA PADA LANSIA DI PANTI WREDA BUDI DHARMA, PONDOK LANSIA MADANIA DAN PANTI WREDA HANNA
Nida Amira Taris Yolanda, Dr. Toto Sudargo, SKM., M.Kes; Nurina Umy Habibah, S.Gz, M.S
2025 | Skripsi | GIZI KESEHATAN
Latar Belakang: Dislipidemia ialah keadaan gangguan metabolik dengan tanda utama
yaitu meningkatnya tingkat kolesterol LDL dan menurunnya tingkat HDL pada
darah. Masalah ini cukup umum terjadi di masyarakat dan sering kali berkaitan
dengan pola hidup yang tidak sehat. Adapun faktor yang memengaruhi munculnya
dislipidemia adalah pola konsumsi makanan. Nutrisi makro seperti total energi,
protein, lemak, serta karbohidrat memainkan peranan penting dalam upaya
pengendalian kondisi ini. Selain itu, konsumsi serat juga diketahui
berkontribusi dalam menurunkan kadar kolesterol darah. Kelompok usia lanjut,
terutama yang tinggal di panti jompo, cenderung memiliki kerentanan lebih
tinggi terhadap dislipidemia, terutama karena prevalensi malnutrisi yang relatif
tinggi di kalangan tersebut.
Tujuan: Mengidentifikasi hubungan pola makan dengan kejadian dislipidemia
pada lansia
Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan studi cross-sectional.
Sampel terdiri dari 76 orang lansia yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi
tertentu. Data dikumpulkan melalui wawancara yang dilakukan oleh enumerator dan
peneliti. Teknik analisis data meliputi analisis univariat, bivariat
menggunakan uji korelasi Spearman, serta analisis multivariat dengan metode regresi
logistik.
Hasil Penelitian: Prevalensi dislipidemia pada subjek penelitian
adalah 34%. Analisis rank Spearman menunjukkan bahwa variabel frekuensi makan
(p = 0,000, r = 0,542) dan asupan lemak (p = 0,011, r = 0,209) yang berhubungan
dengan kejadian dislipidemia, dengan kekuatan hubungan yang tergolong sangat
lemah. Sedangkan asupan energi total (p = 0,069, r = 0,144), protein (p = 0,215,
r = 0,289), karbohidrat (p = 0,872, r = 0,019) dan serat (p = 0,098, r = 0,191)
tidak berhubungan dengan kejadian dislipidemia, engan kekuatan hubungan yang
tergolong sangat lemah. Asupan karbohidrat tidak disertakan dalam analisis
multivariat karena nilai signifikansinya >0,25. Pada analisis regresi
logistik hanya variabel frekuensi makan (p = 0,000) yang memiliki pengaruh
bermakna terhadap kejadian dislipidemia. Frekuensi makan memberikan kontribusi
35,6% terhadap munculnya dislipidemia.
Kesimpulan: Frekuensi makan berhubungan dengan kejadian dislipidemia pada
lansia. Sedangkan asupan makanan yang terdiri dari energi total, protein,
lemak, karbohidrat dan serat tidak berhubungan dengan kejadian dislipidemia
pada lansia di Panti Wreda Budi Dharma, Pondok Lansia Madania dan Panti Wreda
Hanna.
Background: Dyslipidemia is a metabolic disorder
characterized by elevated levels of low-density lipoprotein (LDL) cholesterol
and decreased levels of high-density lipoprotein (HDL) cholesterol in the
blood. This condition is commonly found in the general population and is often
associated with unhealthy lifestyle habits. One of the contributing factors to
dyslipidemia is dietary patterns. Macronutrient intake, including total energy,
protein, fat, and carbohydrates, plays a significant role in the management of
this condition. Additionally, dietary fiber intake has been shown to help
reduce blood cholesterol levels. Older adults, particularly those living in
nursing homes, are at a higher risk of dyslipidemia, largely due to the high
prevalence of malnutrition in this population group.
Objective: To identify the relationship between dietary patterns and the
incidence of dyslipidemia in the elderly.
Methods: This study used a quantitative approach with a cross-sectional
design. A total of 76 elderly individuals who met the inclusion criteria
participated in the study Data were collected through interviews conducted by enumerators and
researchers. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis
using Spearman’s rank correlation test, and multivariate analysis using
logistic regression.
Results: The prevalence of dyslipidemia among the
study subjects was 34%. Spearman's rank correlation analysis showed that meal
frequency (p = 0.000, r = 0.542) and fat intake (p = 0.011, r = 0.209) were
significantly associated with the incidence of dyslipidemia, with the strength
of the correlation categorized as strong for meal frequency and moderate for
fat intake. Meanwhile, total energy intake (p = 0.069, r = 0.144), protein
intake (p = 0.215, r = 0.289), carbohydrate intake (p = 0.872, r = 0.019), and
fiber intake (p = 0.098, r = 0.191) were not significantly associated with
dyslipidemia and showed very weak correlation strengths. Carbohydrate intake
was excluded from the multivariate analysis due to its significance value
exceeding 0.25. Logistic regression analysis revealed that only meal frequency
(p = 0.000) had a significant effect on the incidence of dyslipidemia,
contributing to 35.6% of its occurrence..
Conclusion: Meal frequency is
significantly associated with the incidence of dyslipidemia among the elderly.
Other dietary components, including total energy, protein, fat, carbohydrates,
and fiber, were not significantly related to dyslipidemia among the elderly at
Budi Dharma Nursing Home, Madania Elderly Shelter, and Hanna Nursing Home.
Kata Kunci : dislipidemia; frekuensi makan; asupan makan