Laporkan Masalah

Mendampingi Atau Mengkuratori Perkembangan Anak? Studi Etnografi Pada Dua Layanan Pembelajaran Anak Usia Dini Di Yogyakarta

Nuzul Solekhah, Dr. Elan Lazuardi, S.Ant., M.A

2025 | Tesis | S2 Antropologi

Layanan pembelajaran anak usia dini merupakan mesin produksi subjektivitas anak yang tidak netral, baik secara kultural maupun temporal. Dengan menggunakan kerangka theatricality of culture dari John Pemberton dan Biopolitik temporalitas Sarah Sharma, penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan: (1)Mengapa dua layanan pembelajaran anak yang diteliti memiliki model konstruksi subjek anak ideal yang berbeda, (2)Bagaimana unsur yang lokal dan global diapropriasi kemudian ditampilkan sebagai sesuatu yang otentik dalam aktivitas yang mereka tawarkan, (3)Infrastruktur dan bentuk kerja macam apa digunakan yang menyokong pelaksanaan hal tersebut. Penelitian etnografi yang dilakukan dii dua layanan PAUD yang berbeda ini (Oracle dan Pandawa) menggunakan observasi partisipan dan non partisipan secara dinamis; wawancara mendalam tidak terstruktur; studi dokumen dan pengumpulan artefak institusional untuk melengkapi data dalam analisis ini. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa subjek yang dianggap ideal oleh Pandawa adalah anak yang temporalitasnya teratur sehingga memudahkan dalam pencatatan administrasi. Sementara itu, subjek ideal Oracle adalah anak yang adaptif sehingga mudah untuk dimobilisasi dalam tahapan alur sesi aktivitas di dalamnya yang bersifat fragmentaris dan transisional. Posisionalitas Pandawa yang berada dalam struktur pengetahuan Jawa-Yogyakarta membuatnya harus mengesensialkan laku Ke-Yogyakartaannya melalui beberapa ritual seperti Kamis Pon, Kumpul Bocah dan NGAJENI. Sementara itu, Oracle yang berada di luar struktur tersebut lebih leluasa mengartikulasikan citra modern yang mengacu pada budaya populer global. Keduanya sama-sama tidak bisa sepenuhnya mengapropriasi aspek budaya secara otentik karena upaya ini berujung pada terciptanya ruang negosiasi makna baru yang merupakan residu dari upaya penciptaan otentisitas tadi. Pensituasian budaya semacam ini berkonsekuensi terhadap mekanisme penggunaan infrastruktur temporal-material tertentu. Di sisi lain, muncul bentuk-bentuk kerja kreatif yang juga diikuti dengan alienasi baru dalam Layanan PAUD karena adanya ketimpangan temporal terhadap waktu dominan yang harus diacu. Penelitian ini telah menjelaskan bagaimana rezim pengetahuan temporal bekerja di balik praktik perawatan terhadap anak (child care).

Early Childhood Education and Care (ECCE) services operate as non-neutral engines of child subjectivity production, both culturally and temporally. Drawing upon John Pemberton's framework of theatricality of culture and Sarah Sharma's biopolitics of temporality, this research addresses three key questions: (1) Why do the two examined ECCE services construct different models of ideal subjects, (2) How are local and global elements appropriated and subsequently performed as authentic within their offered activities, and (3) What infrastructural arrangements and labor modalities underpin the operationalization of these processes. This ethnographic study of two distinct ECCE services (Oracle and Pandawa) employed dynamic participant and non-participant observation, unstructured in-depth interviews, document analysis, and institutional artifact collection to complement the analytical data. The findings reveal that Pandawa's ideal subject is a child with regulated temporality that facilitates administrative documentation. In contrast, Oracle's ideal subject is an adaptive child who can be easily mobilized within the fragmentary and transitional flow of activity sessions. Pandawa's positionality within the Javanese-Yogyakarta knowledge structure necessitates essentializing its Yogyakarta-ness through various rituals such as Kamis Pon, Kumpul Bocah, and NGAJENI. Meanwhile, Oracle, positioned outside this structure, enjoys greater freedom to articulate modern imagery referencing global popular culture. Neither can fully appropriate cultural aspects authentically, as these efforts result in the creation of new meaning negotiation spaces that constitute residues from authenticity creation attempts. Such cultural situatedness has consequences for the mechanisms of utilizing specific temporal-material infrastructure. Additionally, creative labor forms emerge accompanied by new forms of alienation within ECCE services due to temporal disparities with the dominant time that must be referenced. This research explicates how temporal knowledge regimes operate behind child care practices.

Kata Kunci : Layanan PAUD, Perkembangan Anak, Pementasan Budaya, Pengasuhan Anak, Temporalitas / Early Childhood Education Services, Child Development, Theatricality of Culture, Child Care, Temporality

  1. S2-2025-525713-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525713-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525713-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525713-title.pdf