Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi dalam Hikayat Indraputra: Kajian Etika Profetik Kuntowijoyo
Aurellia Yasmin Azzahra, Rakhmat Soleh, S.S., M.Hum.
2025 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan (1) etika humanisasi, (2) etika liberasi, dan (3) etika transendensi yang terkandung dalam Hikayat Indraputra. Hikayat Indraputra merupakan salah satu roman Melayu klasik yang menceritakan tentang perjalanan Indraputra untuk mendapatkan obat beranak dari Resi Berma Sakti. Objek material dalam penelitian ini adalah teks Hikayat Indraputra hasil suntingan yang dilakukan oleh Sri Wulan Rudjiati Mulyadi pada tahun 1983. Sebagai roman Melayu klasik, Hikayat Indraputra memiliki fungsi pada tingkatan menghibur dan memberi manfaat. Dalam penelitian ini digunakan objek formal berupa etika profetik yang digagas oleh Kuntowijoyo. Etika profetik ini meliputi etika humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam Hikayat Indraputra. Data terdiri atas satuan lingual yang dihimpun melalui teknik simak catat dan studi pustaka. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis, yaitu dengan mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisisnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Hikayat Indraputra mengandung unsur Islam melalui etika humanisasi, liberasi, dan transendensi yang ditemukan. Etika humanisasi ditemukan melalui penggambaran bakti terhadap orang tua sebagai bentuk memanusiakan manusia, tanggung jawab atas janji kepada sesama manusia, kasih sayang dalam kehidupan sosial, kebesaran hati dalam memberi maaf, dan apresiasi terhadap kebaikan sesama. Etika liberasi teridentifikasi melalui perlawanan terhadap perundungan, pembelaan terhadap perampasan hak, pembebasan dari tuduhan palsu, negasi terhadap kebohongan, dan penyelesaian atas perselisihan. Etika transendensi ditemukan dalam penggambaran ketergantungan manusia kepada Tuhan yang terdiri atas berserah diri kepada Tuhan, percaya pada pertolongan Tuhan, keyakinan pada takdir dan kehendak Tuhan, memulai sesuatu dengan menyebut nama Tuhan, dan mengingat Tuhan dalam ketakjuban terhadap duniawi, serta dalam penggambaran perbedaan mutlak antara Tuhan dan manusia yang terdiri atas Tuhan sebagai pencipta alam semesta, manusia sebagai khalifah di bumi, dan manusia sebagai makhluk yang lalai. Ketiga temuan ini menunjukkan bahwa Hikayat Indraputra sebagai cerita pelipur lara tidak hanya berfungsi untuk menghibur, tetapi juga memberikan manfaat melalui penggambaran hubungan antarmanusia dan hubungan antara manusia dengan Tuhannya.
This research aims to describe (1) the humanization ethics, (2) the liberation ethics, and (3) the transcendence ethics contained in Hikayat Indraputra. Hikayat Indraputra is one of the classical Malay romances that narrates Indraputra’s journey to get a childbirth potion from Resi Berma Sakti. The material object of this research is the text of Hikayat Indraputra as edited by Sri Wulan Rudjiati Mulyadi in 1983. As a classical Malay romance, Hikayat Indraputra serves both an entertaining and an edifying function. This research employs the prophetic ethics framework formulated by Kuntowijoyo as its formal object. The prophetic ethics include the elements of humanization, liberation, and transcendence as reflected in Hikayat Indraputra. The data consist of linguistic units collected through reading and note-taking techniques as well as literature study. The research method used is descriptive-analytical, which involves describing the facts and followed by their analysis.
The results of this research show that Hikayat Indraputra contains Islamic elements through the identified ethics of humanization, liberation, and transcendence. The humanization ethics are reflected in the portrayal of filial piety as a form of humanizing humans, fulfilling promises, compassion in social life, forgiveness, and appreciation of others kindness. The liberation ethics are identified through resistance to bullying, defense to deprivation of rights, liberation from false accusations, negation to deceits, and resolution of conflicts. The transcendence ethics are found in depictions of human dependence on God, such as surrendering to God, believing in divine help, faith in destiny and divine will, beginning actions in God’s name, and remembering God in awe of the worldly. The transcendence ethics also includes depictions of the absolute distinction between God and humans, such as God as the creator of the universe, humans as caliphs on earth, and humans as the negligent creatures. These three findings demonstrate that Hikayat Indraputra, as a tale traditionally regarded as mere entertainment, not only serves to entertain but also provides value through its portrayal of human relationships and the relationship between humans and their Creator.
Kata Kunci : sastra profetik, sastra Melayu, humanisasi, liberasi, transendensi