Alternatif Perancangan Perkerasan Kaku menggunakan MDPJ 2024 dan AASHTO 1993 serta Evaluasi Umur Layan berdasarkan AASHTO 1993 (Studi Kasus: Jalan Akses Bawen, Tol Yogyakarta – Bawen)
Zahra Amarta, Ir. Latif Budi Suparma, S.T., M.Sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Jalan bebas hambatan merupakan opsi prasarana transportasi yang digencarkan pembangunannya dalam 10 tahun terakhir. Salah satu diantara proyek pembangunan jalan yang masih terlaksana adalah Jalan Tol Yogyakarta – Bawen dengan panjang total 76,4 km. Jalan Akses Bawen, sebagai salah satu jalan akses dalam jaringan Jalan Tol Yogyakarta – Bawen, menjadi studi kasus penelitian tugas akhir penulis. Penelitian ini difokuskan pada perancangan tebal perkerasan kaku (rigid pavement) menggunakan metode MDPJ 2024 dan AASHTO 1993 serta analisis defisiensi umur layan perkerasan jalan akibat beban berlebih (overload).
Perkerasan kaku (rigid pavement) kerap digunakan karena memiliki usia layan yang lebih panjang dan lebih minim perawatan jika dibandingkan dengan perkerasan lentur (felxible pavement). Dalam menghitung tebal pelat, digunakan data sekunder berupa VLHR (Volume Lalu Lintas Harian Rerata), pertumbuhan lalu lintas, dan data jembatan timbang dari dokumen RTA Jalan Tol Yogyakarta – Bawen. Kemudian, dari informasi beban lalu lintas, dihitung nilai RSL (Remaining Service Life) ketika kondisi overload dengan meningkatkan besaran massa pada tiap sumbu kendaraan sebesar 10%, 20%, dan 30%. Microsoft Excel digunakan dalam tahap perancangan perkerasan dan analisis penurunan sisa umur layan; serta AutoCAD digunakan dalam penggambaran visual hasil rancangan.
Setelah proses analisis dilakukan, berdasarkan MDPJ 2024, diperoleh hasil pelat setebal 385 mm (mutu f'c 40 MPA), lean concrete (f'c 10 Mpa) setebal 150 mm, lapis drainase menggunakan LFA Kelas A dengan nilai CBR 90% setebal 200 mm, dan LFA Kelas C dengan nilai CBR 30% setebal 200 mm. Sedangkan, menggunakan metode AASHTO 1993, diperoleh tebal pelat beton sebesar 380 mm (mutu f'c 40 MPA), CTB (f'c 4,5 MPa) setebal 150 mm, dan LFA Kelas B setebal 200 mm. Berdasarkan dokumen perancangan, umur layan perkerasan diprediksi berakhir pada 2064. Namun, umur layan berakhir lebih cepat akibat kondisi overload 10% menjadi tahun 2059 dengan tingkat kerusakan tercapai 103,13%. Sedangkan, pada kondisi overload 20% umur layan perkerasan berakhir pada tahun 2054 dengan tingkat kerusakan tercapai 104,162% serta umur layan jalan berakhir pada tahun 2049 pada kondisi overload 30?ngan tingkat kerusakan tercapai 101,182%.
Kata Kunci : Jalan Akses Bawen, perkerasan kaku, MDPJ 2024, AASHTO 1993, muatan berlebih, sisa umur layan