Hubungan Otonomi Reproduksi Perempuan dengan Aborsi Self-reported di Pulau Jawa Tahun 2018 (Analisis Data Sekunder Community-Based Survey Kesehatan Reproduksi Perempuan di Pulau Jawa Tahun 2018)
Enrika Rahayu Setyani, dr. Ifta Choiriyyah, MSPH, Ph.D
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar Belakang: Aborsi merupakan masalah serius bagi kesehatan perempuan di tingkat global maupun nasional. Sebanyak 61% kehamilan tidak diinginkan di dunia berakhir dengan aborsi pada 2015-2019. Laju aborsi Pulau Jawa, Indonesia tahun 2018 lebih tinggi dibandingkan Asia Tenggara yaitu 43 per 1.000 perempuan usia reproduksi. Selain faktor-faktor individu yang sudah dibuktikan seperti usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, wilayah tempat tinggal, dan wealth index, faktor otonomi reproduksi merupakan prediktor pencegahan aborsi yang belum banyak dieksplorasi.
Tujuan: Teridentifikasinya hubungan antara otonomi reproduksi perempuan dengan aborsi self-reported pada perempuan usia reproduksi di Pulau Jawa.
Metode: Analisis data Community-Based Survey Kesehatan Reproduksi Perempuan Pulau Jawa 2018, yang meliputi 6.868 perempuan usia 15-49 tahun dengan status menikah. Aborsi self-reported ditentukan berdasarkan pengalaman responden melakukan menstrual regulation dan/atau upaya menghentikan kehamilan. Variabel laten otonomi reproduksi dibentuk dengan confirmatory factor analysis dari pertanyaan-pertanyaan yang mencakup domain pengambilan keputusan dan komunikasi terkait kespro, serta kebebasan dari kekerasan pasangan intim. Analisis data menggunakan uji regresi logistik.
Hasil: Prevalensi aborsi self-reported adalah 3,87%. Perempuan dengan otonomi reproduksi tinggi memiliki kemungkinan lebih besar untuk melaporkan aborsi (AOR=1,62 (1,08-2,44)). Karakteristik sosio-demografi yang berhubungan dengan aborsi self-reported adalah memiliki ?3 anak (AOR=2,43 (1,66-3,54)) dan riwayat menggunakan kontrasepsi sebelum kehamilan (AOR=2,23 (1,58-3,14)).
Kesimpulan: Otonomi reproduksi memungkinkan perempuan lebih berdaya untuk mengambil keputusan, bertindak, dan melaporkan pengalaman kespro termasuk aborsi. Penguatan otonomi reproduksi perempuan perlu dilakukan melalui layanan kespro yang berbasis hak dan gender, dengan konseling dan edukasi yang komprehensif, disertai program pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas perempuan dan mengurangi norma sosial yang membatasi peran perempuan.
Background: Abortion remains a serious reproductive health issue both globally and nationally. During 2015-2019, approximately 61% of unintended pregnancies ended in abortion. In 2018, abortion rate in Java, Indonesia, was higher than the Southeast Asian at 43 per 1.000 reproductive age women. Beyond socio-demographic determinants such as age, education, employment status, parity, area of residence, and wealth index, reproductive autonomy remains an underexplored determinant in abortion.
Objective: Identify association between women's reproductive autonomy and self-reported abortion among women of reproductive age in Java, Indonesia.
Methods: This study analyzed the data of the 2018 Community-Based Survey on Women’s Reproductive Health in Java, involving 6,868 married women aged 15–49 years. Self-reported abortion was determined based on respondent’s menstrual regulation and/or pregnancy termination attempts. Latent variable of reproductive autonomy was developed using confirmatory factor analysis, including domains of decision-making and communication related to reproductive health, and freedom from IPV. Data analysis used logistic regression.
Results: Prevalence of self-reported abortion was 3.87%. Women with high autonomy were more likely to report having had an abortion compared to those with low autonomy (AOR = 1.62 (1.08-2.44)). Socio-demographic factors associated with self-reported abortion were having ?3 children (AOR=2.43 (1.66-3.54)) and history of contraceptive use prior to pregnancy (AOR=2.23 (1.58-3.14)).
Conclusion: Women with higher reproductive autonomy are more empowered to make decision, act, and report their reproductive health includes abortion. Women's reproductive autonomy should be strengthened through rights-based and gender-sensitive health services, accompanied by comprehensive counseling, and community programs that enhance women's capacity and reduce restrictive social norms.
Kata Kunci : aborsi, kesehatan ibu, otonomi reproduksi perempuan, perempuan usia subur, survei rumah tangga