Exploring Female Boarding School Students' Experiences with Overindulgent Parenting: A Narrative Inquiry on Autonomy Development
Putri Zalfiyanti Prasetya, Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., Ph.D., Psikolog
2025 | Skripsi | PSIKOLOGI
Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana siswa perempuan dari latar belakang keluarga overindulgent mengalami perkembangan otonomi dalam lingkungan terstruktur di sebuah pesantren di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan narrative inquiry yang dipandu oleh Self-Determination Theory dan Attachment Theory, studi ini menangkap kisah hidup peserta dalam transisi dari ketergantungan menuju pengaturan diri. Empat partisipan dipilih secara purposive dari 57 siswa berdasarkan skor tertinggi pada Overindulged Scale, yang mengukur pemberian materi berlebihan, pengasuhan yang terlalu memanjakan, dan kurangnya struktur rumah tangga. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan siswa dan wali kelas mereka. Analisis dilakukan menggunakan kerangka tiga dimensi dari narrative inquiry, yang menghasilkan enam benang narasi yang mencerminkan momen-momen penting dalam penyesuaian emosional, pembentukan identitas, dan peningkatan kemandirian. Temuan menunjukkan bahwa meskipun pola asuh overindulgent dapat menunda perkembangan otonomi, lingkungan sekolah yang terstruktur dan suportif secara emosional mampu menyediakan scaffolding yang dibutuhkan agar siswa dapat menginternalisasi tanggung jawab dan membangun agensi pribadi. Studi ini memberikan wawasan kontekstual yang relevan tentang perkembangan remaja dalam masyarakat kolektivistik, serta implikasi praktis bagi pendidik, pengelola sekolah, dan orang tua dalam mendukung proses pembentukan otonomi.
This study explores how female students from overindulgent family backgrounds experience the development of autonomy within the structured environment of an Indonesian boarding school. Using a narrative inquiry approach guided by Self-Determination Theory and Attachment Theory, this research captures students’ lived stories of transition from dependence to self-regulation. Four participants were purposively selected from a pool of 57 students based on high scores on the Overindulged Scale, which measures excessive material provision, over-nurturing, and lack of household structure. Data were collected through in-depth, semi-structured interviews with both students and their homeroom teachers. Analysis followed the three-dimensional narrative inquiry framework, identifying six narrative threads that reflect key moments of emotional adjustment, identity building, and increasing self-direction. The findings suggest that although overindulgent parenting may delay autonomy development, a structured and emotionally supportive school environment can provide the scaffolding necessary for students to internalize responsibility and gain personal agency. This study contributes culturally grounded insights into adolescent development in collectivist contexts and offers practical implications for educators, school administrators, and parents in supporting autonomy-building processes.
Kata Kunci : Otonomi, sekolah asrama, remaja perempuan, pola asuh yang terlalu memanjakan