ANALISIS DETERMINAN KETERLAMBATAN PENEMUAN KUSTA DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL TAHUN 2024
Denis Oxy Handika, dr. Riris Andono Ahmad, MPH., PhD; dr. Agnes Sri Siswati, Sp. DVE., Subsp. DT
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar
belakang: Kusta
masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Gunungkidul dengan tingginya kasus
baru dengan disabilitas tingkat 2, menandakan keterlambatan deteksi dini.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan keterlambatan penemuan
kusta di Kabupaten Gunungkidul tahun 2024.
Metode: Penelitian
ini menggunakan metode mixed methods dengan desain convergent
parallel. Penelitian dilakukan secara komprehensif melalui evaluasi program
penemuan kusta, evaluasi sistem surveilans, serta analisis faktor-faktor yang
memengaruhi perilaku tidak melakukan skrining rutin pada kontak kusta,
berdasarkan pendekatan faktor predisposisi, penguat, pendukung, dan lingkungan.
Data dikumpulkan dari 62 petugas kesehatan dan 264 kontak penderita kusta.
Analisis kuantitatif dilakukan melalui uji univariat, bivariat, dan multivariabel,
sedangkan data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. Pelaporan
mengikuti panduan COREQ dan STROBE.
Hasil:
Penelitian
menunjukkan bahwa keterlambatan penemuan kusta dipengaruhi oleh rendahnya
pemahaman petugas puskesmas terhadap regulasi program, tingginya rotasi staf,
serta kurangnya pelatihan berkelanjutan. Surveilans masih bersifat pasif dan
kasuistik, dengan pencatatan manual dan pemanfaatan SIPK yang terbatas, serta
koordinasi lintas sektor yang belum optimal. Faktor perilaku masyarakat seperti
stigma, persepsi negatif, dan keterbatasan akses layanan kesehatan turut
menurunkan partisipasi dalam skrining rutin kontak kusta, yang secara
keseluruhan memperlambat deteksi dini kasus di Kabupaten Gunungkidul.
Kesimpulan: Keterlambatan penemuan kasus kusta di Kabupaten Gunungkidul dipicu oleh
rendahnya pemahaman petugas terhadap regulasi program, berdampak pada
pelaksanaan yang tidak optimal, lemahnya surveilans, dan minimnya partisipasi
masyarakat. Diperlukan peningkatan kapasitas petugas melalui pelatihan berkelanjutan,
penguatan SIPK, dan pengembangan jejaring lintas sektor. Edukasi masyarakat
untuk mengurangi stigma dan meningkatkan akses layanan juga penting untuk
mendorong deteksi dini kusta.
Background: Leprosy
remains a public health issue in Gunungkidul District, indicated by the high
number of new cases with grade 2 disability, reflecting delayed early
detection. This study aims to identify the determinants of delayed leprosy case
detection in Gunungkidul District in 2024.
Methods: The
study comprehensively evaluated the leprosy case detection program, the
surveillance system, and behavioral factors influencing the lack of routine skrining
among leprosy contacts, based on predisposing, reinforcing, enabling, and
environmental factors. Data were collected from 62 healthcare workers and 264
leprosy contacts. Quantitative data were analyzed using univariate, bivariate,
and multivariate tests, while qualitative data were analyzed thematically. The
reporting of qualitative findings followed the COREQ, while quantitative
components adhered to the STROBE guidelines.
Results: Delayed
case detection was influenced by limited understanding among primary healthcare
staff regarding program regulations, high staff turnover, and insufficient
continuous training. Surveillance activities were passive and case-based,
characterized by manual recording, limited use of the Leprosy Information
System (SIPK), and suboptimal cross-sectoral coordination. Behavioral factors
such as stigma, negative perceptions, and limited access to health services
also reduced participation in routine contact skrining, collectively
contributing to delays in early case detection.
Conclusion: The
delay in leprosy case detection in Gunungkidul District is primarily due to
healthcare workers’ limited knowledge of program procedures, leading to
suboptimal implementation, weak surveillance, and low community participation.
Enhancing capacity through ongoing training, strengthening the SIPK system, and
developing cross-sectoral networks are necessary. Additionally, community
education to reduce stigma and improve access to services is essential for
promoting early detection.
Kata Kunci : kusta, evaluasi program, sistem surveilans, keterlambatan deteksi, perilaku kesehatan, Kabupaten Gunungkidul