Studi tentang Praktik Sosial Kelompok Masyarakat Ciracas Barokah dalam Program Permakanan Kementerian Sosial Republik Indonesia
Aisya Maharani, Rezaldi Alief Pramadha, S.E., M.S.S.
2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Tingkat kemiskinan di kalangan disabilitas secara global 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum, sedangkan 70% lansia tidak memiliki akses terhadap jaminan sosial yang layak dan rentan terhadap kemiskinan di masa tua. Program Permakanan Kementerian Sosial hadir untuk mengatasi permasalahan ini dengan kelompok masyarakat (pokmas) sebagai aktor terdepan dalam implementasinya di lapangan. Terdapat berbagai tantangan dalam implementasi Program Permakanan. Anggota pokmas menerima upah yang rendah dengan beban kerja yang tinggi. Di samping itu, pokmas menghadapi dependensi pendanaan dari Kementerian Sosial sebagai sumber utama yang membatasi ruang gerak pokmas dalam melakukan praktik pemberian makanan bergizi untuk lansia dan penyandang disabilitas. Penelitian terdahulu menunjukkan modal sosial di daerah urban mengalami penurunan signifikan yang menjadi ancaman bagi eksistensi pokmas. Terdapat urgensi penelitian tentang pokmas untuk menghasilkan rekomendasi dalam mengatasi tantangan yang mereka hadapi. Penelitian ini menggunakan kerangka teori praktik sosial oleh Pierre Bourdieu mengenai modal, habitus, arena, praktik sosial, dan reproduksi sosial untuk mengetahui interaksi antar konsep dan mengaitkannya dengan temuan lapangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dilaksanakan sejak April hingga Mei 2025. Peneliti melakukan wawancara mendalam, FGD, observasi, dan dokumentasi terhadap tiga belas informan. Pada bagian temuan disajikan tentang Program Permakanan menurut petunjuk teknis terkait; deskripsi wilayah Ciracas sebagai lokus penelitian; serta sejarah dan perkembangan Pokmas Ciracas Barokah sejak tahun 2022 hingga saat ini, dengan operasional pukul 3 pagi hingga 3 sore setiap harinya. Mekanisme monitoring dan evaluasi dilakukan melalui aplikasi SIKSMA per pengantaran dan laporan kepada Kementerian Sosial di akhir bulan. Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa Pokmas Ciracas Barokah sudah memiliki fondasi habitus yang kuat dalam menjalankan program. Pokmas menjalankan praktik sosialnya dalam bentuk distribusi bantuan kepada penerima manfaat. Dalam menjalankan praktiknya, pokmas turut melanggengkan reproduksi sosial yang terjadi. Akan tetapi, ada bentuk-bentuk resistensi halus dan strategi navigasi yang dijalankan. Pada bagian akhir, peneliti memberikan rekomendasi untuk pemangku kepentingan, termasuk tentang pengembangan modal pokmas agar terbentuk menjadi kelompok yang lebih otonom dan mandiri.
The poverty rate among persons with disabilities globally is 1.5 times higher compared to the general population, while 70% of the elderly do not have access to adequate social security and are vulnerable to poverty in old age. The Ministry of Social Affairs' Permakanan Program emerged to address this issue with community groups (pokmas) as the frontline actors in its field implementation. There are various challenges in implementing the Permakanan Program. Pokmas members receive low wages with high workloads. Additionally, pokmas face funding dependency on the Ministry of Social Affairs as the primary source, which limits pokmas' room for maneuver in practicing the provision of nutritious food for the elderly and persons with disabilities. Previous research shows that social capital in urban areas has experienced significant decline, which poses a threat to the existence of pokmas. There is an urgent need for research on pokmas to generate recommendations for addressing the challenges they face. This research employs Pierre Bourdieu's social practice theory framework regarding capital, habitus, field, social practice, and social reproduction to understand the interaction between concepts and relate them to field findings. This research uses qualitative methods with a case study approach, conducted from April to May 2025. The researcher conducted in-depth interviews, FGDs, observations, and documentation with thirteen informants. The findings section presents the Permakanan Program according to related technical guidelines; description of the Ciracas area as the research locus; as well as the history and development of Pokmas Ciracas Barokah from 2022 to the present, with operations from 3 AM to 3 PM daily. Monitoring and evaluation mechanisms are conducted through the SIKSMA application per delivery and reports to the Ministry of Social Affairs at the end of each month. From the discussion, it can be concluded that Pokmas Ciracas Barokah already has a strong habitus foundation in running the program. Pokmas carries out its social practice in the form of distributing assistance to beneficiaries. In carrying out its practice, pokmas also perpetuates the social reproduction that occurs. However, there are forms of subtle resistance and navigation strategies that are implemented. In the final section, the researcher provides recommendations for stakeholders, including the development of pokmas capital so that it becomes a more autonomous and independent group.
Kata Kunci : pokmas, Permakanan, Bourdieu, Jakarta