ANALISIS MINAT PENGGUNAAN SISTEM PEMBAYARAN TERINTEGRASI UNTUK TRANSPORTASI BERDASARKAN TECHNOLOGY READINESS DI YOGYAKARTA
DHIMAS PRATOMO, Prof.Ir.Sigit Priyanto, M.sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Penelitian ini menyelidiki kesiapan warga Yogyakarta untuk mengadopsi
sistem pembayaran transportasi umum terintegrasi yang serupa dengan JakLingko
di Jakarta. Penelitian ini didasarkan pada Technology Readiness dan Unified
Theory of Acceptance and Use of Technology dan mengeksplorasi bagaimana
faktor-faktor seperti manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, dinamika
sosial dan kebiasaan digital yang sudah ada dalam membentuk intensi perilaku optimism
dan ketidaknyamanan memoderasi hubungan-hubungan ini. Sebuah survei kuantitatif
dilakukan terhadap 400 pengguna transportasi umum di Yogyakarta, dan data
dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modelling
(PLS-SEM).
Temuan ini menekankan ekspektasi kinerja sebagai pendorong penting
adopsi, terutama jika dimoderasikan dengan optimisme tentang manfaat teknologi.
Namun, hubungan ini diperlemah oleh ketidaknyamanan, yang mencerminkan
kecemasan tentang keandalan teknis dan keamanan. Sementara pengaruh sosial dan kebiasaan
telah terbukti memiliki nilai prediksi yang kuat dalam hal penerimaan, ekspektasi
usaha menunjukkan efek negatif yang berlawanan. Hal ini menunjukkan bahwa
kompleksitas yang dirasakan memiliki potensi untuk bertindak sebagai penghalang
adopsi, bahkan di antara demografi yang lebih muda yang melek teknologi (usia
22-30 tahun). Sebaliknya, individu dari kelompok pendapatan yang lebih tinggi
(Rp2-6 juta/bulan) dan pengguna pembayaran digital yang sering menunjukkan
kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengadopsi sistem ini.
Studi ini menekankan perlunya desain yang intuitif untuk memfasilitasi
interaksi pengguna, edukasi yang ditargetkan untuk mengurangi kecemasan teknis,
dan integrasi lintas-moda untuk mengkonsolidasikan jaringan transportasi yang
berbeda di Yogyakarta. Para pembuat kebijakan didesak untuk memprioritaskan
implementasi bertahap, dengan memanfaatkan tokoh-tokoh lokal yang berpengaruh
dan protokol keamanan yang transparan untuk membangun kepercayaan.
This
study investigates the readiness of Yogyakarta residents to adopt an integrated
public transportation payment system similar to Jakarta's JakLingko. The
research is grounded in the Technology Readiness Index and the Unified Theory
of Acceptance and Use of Technology and explores how factors such as perceived
benefits, ease of use, social dynamics, and existing digital habits shape Behavioural
Intention where optimism and discomfort moderate these relationships. A
quantitative survey was administered to 400 users of public transportation in
Yogyakarta, and the data were analysed using Partial Least Squares Structural
Equation Modelling (PLS-SEM). The
findings emphasise Performance Expectancy as a pivotal driver of adoption,
particularly when aligned with Optimism about technological benefits. However,
this relationship is weakened by Discomfort, reflecting anxieties about
technical reliability and security. While Social Influence and Habit have been
shown to have a strong predictive value in terms of acceptance, Effort
Expectancy has exhibited a counterintuitive negative effect. This suggests that
perceived complexity has the potential to act as a deterrent to adoption, even
among tech-savvy younger demographics (aged 22–30). Conversely, individuals
from higher income brackets (Rp2–6 million/month) and frequent digital payment
users exhibited a heightened propensity to adopt the system. The
study emphasises the necessity for intuitive design to facilitate user
interactions, targeted education to alleviate technical anxieties, and
cross-modal integration to consolidate Yogyakarta's disparate transport
networks. The policymakers are urged to prioritise phased implementation,
leveraging local influencers and transparent security protocols to build trust.
Kata Kunci : UTAUT, Technology Readiness, Behavioural Intention, PLS-SEM, Integrated Payment System