Eritema, atau kemerahan pada kulit, merupakan manifestasi utama dari paparan radiasi ultraviolet (UV). Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati tanaman obat telah lama memanfaatkan sumber daya alam untuk pelayanan kesehatan preventif, promotif, rehabilitatif, dan paliatif. Physalis angulata L., yang dikenal sebagai ciplukan, secara tradisional digunakan untuk mengobati berbagai kondisi kulit, termasuk kudis, dan diyakini dapat merangsang regenerasi kulit berkat sifat antioksidannya. Salah satu senyawa antioksidan utama dalam tanaman adalah senyawa fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kandungan fenolik total dan nilai sun protection factor (SPF) dari ekstrak kelopak Physalis angulata L.
Pada penelitian ini, senyawa fenolik dari kelopak ciplukan diekstraksi menggunakan pelarut etanol dengan variasi konsentrasi (96%, 70%, 50%, 20%, dan 0%) melalui metode maserasi untuk mengakomodasi perbedaan polaritas senyawa. Kandungan fenolik total (total phenolic content/TPC) ditentukan secara kolorimetrik menggunakan metode Folin–Ciocalteu, sementara nilai SPF dievaluasi menggunakan pembaca mikropelat UV-Vis. Nilai TPC dan SPF dari masing-masing ekstrak diukur, dan dilakukan analisis korelasi antara keduanya.
Nilai TPC dan SPF tertinggi diperoleh dari ekstrak etanol 70%, masing-masing sebesar 2,089 ± 0,065 mg GAE/g sampel dan 1,307 ± 0,021. Ditemukan korelasi positif yang sangat kuat antara TPC dan nilai SPF (koefisien korelasi = 0,935, p = 0,000), yang menunjukkan bahwa senyawa fenolik dalam Physalis angulata L. berkontribusi signifikan terhadap aktivitas fotoprotektifnya. Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat antara kandungan fenolik total dan nilai SPF, yang mengindikasikan bahwa senyawa fenolik berperan penting dalam aktivitas perlindungan terhadap radiasi UV dari ekstrak tersebut.
Erythema, or skin reddening, is a prominent manifestation of ultraviolet (UV) radiation exposure. Indonesia, rich in medicinal plant biodiversity, has long utilized natural resources for preventive, promotive, rehabilitative, and palliative healthcare. Physalis angulata L., commonly known as ground cherry or ciplukan, is traditionally used to treat various skin conditions, including scabies, and is believed to promote skin regeneration due to its antioxidant properties. Among the major antioxidant compounds in plants are phenolics. This study aims to find the correlation between phenolic content and SPF of Physalis angulata L. calyx extract.
In this study, phenolic compounds from ground cherry calyces were extracted using ethanol at varying concentrations (96%, 70%, 50%, 20%, and 0%) to account for differences in compound polarity by maceration. Total phenolic content (TPC) was determined colorimetrically using the Folin–Ciocalteu method, while sun protection factor (SPF) values were evaluated using a UV-Vis microplate reader. The TPC and SPF values of each extract were quantified, and their correlation was assessed.
The highest TPC and SPF values were obtained from the 70% ethanol extract, measuring 2.089 ± 0.065 mg GAE/g sample and 1.307 ± 0.021, respectively. A very strong positive correlation was observed between TPC and SPF values (correlation coefficient = 0.935, p = 0.000), indicating that phenolic compounds in Physalis angulata L. may contribute significantly to its photoprotective activity. The study demonstrated a strong positive correlation between total phenolic content and SPF value, indicating that phenolic compounds may significantly contribute to the extract's UV-protective activity.
Kata Kunci : Phenolic, Ground cherry, Physalis angulata L., SPF