Potensi wilayah kabupaten daerah tingkat II Bandung untuk pengembangan Agrowisata
Indah Yuliarti, Drs. Sujali, M.S.; Drs. H.B.S. Eko Prakoso, M.SP.
1996 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHKabupaten Dati II Bandung memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan agrowisata dan memiliki banyak jenis komoditas pertanian yang dapat dijadikan sebagai obyek agrowisata. Akan tetapi sampai saat ini potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh sebab itu perlu diupayakan adanya usaha untuk memanfaatkan potensi tersebut, agar dapat memberikan berbagai keuntungan. Melihat permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui wilayah-wilayah mana yang berpotensi untuk pengembangan agrowisata dan menentukan jenis-jenis komoditas pertanian yang merupakan unggulan di setiap daerah, sehingga dapat dikembangkan menjadi obyek agrowisata. Setelah diketahui wilayah-wilayah yang berpotensi untuk pengembangan agrowisata, kemudian dapat ditentukan langkah-langkah/program yang perlu diterapkan di daerah penelitian sebagai upaya untuk mengembangkan kegiatan agrowisata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk analisis data sekunder yang terdiri atas tahap penentuan daerah penelitian, pengumpulan data, dan teknik pengolahan dan analisis data. Teknik pengolahan dan analisis data yang digunakan adalah Teknik Penskalaan serta Analisis Location Quotient. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 31 kecamatan yang diarahkan untuk daerah pengembangan pariwisata dan pertanian, terdapat 10 kecamatan (32,26%) yang berpotensi tinggi untuk pengembangan agrowisata. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Kecamatan Cililin, Cikalong Wetan, Lembang, Parongpong, Ciwidey. Pangalengan, Banjaran, Soreang, Majalaya dan Ciparay. Sedangkan kecamatan yang berpotensi sedang sebanyak 11 kecamatan (35,48%), yaitu Kecamatan Gunung Halu, Batujajar, Padalarang. Cipatat, Ngamprah, Pasir Jambu, Kertasari, Pacet, Cicalengka, Cisarua dan Cipeundeuy. Kecamatan yang berpotensi rendah sejumlah 10 kecamatan (32,26%), yaitu Kecamatan Sindangkerta, Cipongkor, Arjasari, Ibun, Paseh, Pameungpeuk, Katapang, Cikancung, Cilengkrang dan Cimenyan. Dari hasil analisis Location Quotient, dapat diketahui bahwa jenis-jenis komoditas pertanian yang merupakan komoditas unggulan sangat bervariasi, karena terdapat 40 jenis komoditas unggulan yang memiliki peluang untuk dikembangkan, dan di kecamatan berpotensi tinggi memiliki peluang mengembangkan 4-11 jenis komoditas unggulan. Berdasarkan hasil penelitian dan permasalahan yang ada ditentukan langkah-langkah/program serta kebijaksanaan di Kabupaten Dati Bandung untuk menunjang perkembangan kegiatan agrowisata dengan memberikan prioritas pengembangan pada kecamatan- kecamatan berpotensi tinggi dengan memperhatikan kendala yang ada.
-
Kata Kunci : Pengembangan agrowisata,Potensi wilayah,Komoditas Pertanian, Bandung,Jawa Barat