Laporkan Masalah

PENGEMBANGAN METODE PROFIT SHARING DAN MERCHANDISING PADA MODEL INTEGRATED INDEPENDENT STORE (Studi Kasus di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta)

Gabriela Intani Putri, Dr.Eng. Ir. M. Arif Wibisono, S.T., M.T. IPM. ASEAN. Eng

2010 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI

Euforia banyak sekali berdirinya minimarket waralaba saat ini telah mengancam keberlangsungan toko-toko mandiri yang dimiliki oleh perorangan. Terdapat banyak faktor yang menjadikan minimarket waralaba atau corporate chain store ini lebih disukai oleh masyarakat dibandingkan toko mandiri yang sudah ada sebelumnya. Selain kondisi fisik bangunan minimarket waralaba yang lebih bagus dan pelayanan yang lebih memuaskan, faktor harga juga menjadi salah satu penyebab jatuhnya toko mandiri atau independent store. Harga pada toko mandiri terkadang lebih mahal daripada harga yang ditawarkan minimarket waralaba karena jalur distribusi produk untuk sampai ke toko mandiri lebih panjang daripada minimarket waralaba. Pemendekan jalur distribusi barang ke toko mandiri dapat dilakukan sebagai solusi dari masalah tersebut. Dengan mengadopsi sistem pada corporate chain store, distribution center (DC) dapat didirikan sebagai titik tengah pendistribusian barang dari pabrik ke tangan peritel akhir (independent store). DC dan independent store dapat membentuk jaringan integrated independent store. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan metode profit sharing dan merchandising pada model integrated independent store. Penelitian ini dilakukan dengan studi kasus di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian diawali dengan identifikasi dan deskripsi metode profit sharing dan merchandising pada corporate chain store, yaitu pewaralaba Indomaret, dan pada independent store yang berlokasi di Kabupaten Bantul. Data yang diperoleh kemudian dijadikan acuan dalam pengembangan metode profit sharing dan merchandising pada pengembangan model integrated independent store. Setelah dilakukan validasi dan penghitungan, penulis menjabarkan proses merchandising dengan model SCOR. Penelitian ini mengembangkan metode profit sharing dengan sistem CPFF (Cost-Plus-Fixed-Fee) di mana terdapat kesepakatan biaya dan harga jual antara DC dan independent store dengan pembagian keuntungan integrated independent store sebesar rata-rata 7,63%. Proses pemesanan dan pembayaran ditentukan dari waktu yang tersingkat untuk memaksimalkan jumlah pengiriman per hari. Dari hasil penghitungan diperoleh bahwa pemesanan sebelum pengiriman dan proses pembayaran tempo dengan billing cycle menghabiskan waktu tersingkat. Siklus pengiriman barang 2 hari sekali. Pada dasarnya, tidak ada ketentuan atau rumus profit sharing yang tetap dan dapat berlaku secara umum karena penentuan profit sharing merupakan kesepakatan pembeli dan penjual.

Kata Kunci : Independent store, Profit sharing, Merchandising

  1. S1-FTK-2010-Gabriela_Intani_Putri-abstract.pdf  
  2. S1-FTK-2010-Gabriela_Intani_Putri-bibliography.pdf  
  3. S1-FTK-2010-Gabriela_Intani_Putri-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FTK-2010-Gabriela_Intani_Putri-title.pdf