Dari Ritual menjadi Festival: Profanisasi Ritual Adat Kematian Babukung (Studi Kasus Desa Riam Tinggi, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah)
Safrial Fachry Pratama, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si.
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Ritual adat kematian Babukung saat ini memasuki babak baru dengan diadakannya festival Babukung di Kabupaten Lamandau yang menjadi agenda tahunan. Di satu sisi adanya festival tersebut dirasa menguntungkan karena dapat menaikkan citra daerah melalui sejumlah Rekor MURI yang didapat, namun pada sisi lain ada kelompok masyarakat yang merasa termarjinalisasi dengan diadakannya festival tersebut yang berlatar belakang dari ritual adat kematian Babukung yang telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Dayak Tomun di Kabupaten Lamandau. Saat ini Babukung menjadi sebuah tontonan yang bisa dilihat setiap tahunnya sehingga hal tersebut dianggap telah melewati batas-batas kesakralan yang ada. Penelitian ini membahas mengenai dinamika proses profanisasi, serta melihat dengan rinci bagaimana pandangan warga di Desa Riam Tinggi, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah terhadap praktik-praktik yang sudah terjadi. Pembahasan difokuskan analisis bentuk-bentuk perubahan nilai sakral menjadi profan yang terjadi pada ritual adat kematian Babukung. Metode penelitian pada tulisan ini menggunakan pendeketan kualitatif dengan jenis studi etnografi. Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan pertama fenomena profanisasi terjadi karena festival Babukung yang saat ini diadakan sudah tidak lagi mengdepankan unsur sarkal di dalamnya dengan melaksanakan ritual adat tidak sesuai dengan waktu yang sudah lama menjadi ketetapan. Kedua, adanya profanisasi juga dikarenakan kekuasaan institusi adat saat yang dengan mudah mengubah hal-hal yang sifatnya sakral menjadi profan serta tidak lagi mengedepankan unsur-unsur adat dan lebih banyak bekerjasama dengan pemerintah desa yang sifatnya transaksional. Serta yang ketiga, selain dijadikan komodifikasi, pelemahan terjadi juga pada umat-umat kaharingan yang saat ini jumlahnya makin sedikit yang berjumlah 12 orang pemeluk saja menurut data dari Prodeskel Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri Tahun 2025 sehingga dengan mudah bisa dijadikan sebagai sarana dan media untuk melegitimasi kekuasaan-kekuasaan tertentu.
The traditional death ritual of Babukung is now entering a new phase with the Babukung festival in Lamandau Regency becoming an annual event. On the one hand, the festival is considered beneficial because it can improve the image of the region through a number of MURI Records obtained, but on the other hand there are community groups who feel marginalized by the holding of the festival which is based on the traditional Babukung death ritual that has been carried out for generations by the Dayak Tomun community in Lamandau Regency. Nowadays, Babukung has become a spectacle that can be seen every year, so it is considered to have crossed the boundaries of sacredness. This research discusses the dynamics of the profanization process, and looks in detail at how residents in Riam Tinggi Village, Lamandau Regency, Central Kalimantan view the practices that have occurred. The discussion focuses on analyzing the forms of changes in sacred and profane values that occur in the Babukung death ritual. The research method in this paper uses a qualitative approach with the type of ethnographic study. The data collection process was conducted through in-depth interviews, documentation, and literature study. The results of the study show that first, the phenomenon of profanization occurs because the Babukung festival that is currently held no longer puts forward the sacred elements in it by carrying out traditional rituals not in accordance with the time that has long been determined. Secondly, the existence of profanization is also due to the power of customary institutions that easily change things that are sacred into profane and no longer prioritize traditional elements and work more with transactional village governments. And third, in addition to being commodified, weakening also occurs in kaharingan communities, which are currently decreasing in number, which amounts to only 12 adherents according to data from Prodeskel Director General of Village Government Development of the Ministry of Home Affairs in 2025 so that it can easily be used as a means and media to legitimize certain powers.
Kata Kunci : Profanisasi, Ritual adat Babukung, Festival, Umat Kaharingan, Institusi Adat