Laporkan Masalah

MENELUSURI LIFE HISTORY TEMAN TULI: NORMALISASI, REKOGNISI, DAN REDISTRIBUSI AKSES DALAM PARADOKS INKLUSIVITAS

Franciska Angelli Tefbana, Dr. Andreas Budi Widyanta, S.Sos., M.A.

2025 | Tesis | S2 Sosiologi

Masih begitu banyak normalisasi, ketiadaan pengakuan dan maldistribusi akses bagi teman Tuli hingga hari ini. Dengan demikian, studi ini mengeksplorasi konstruksi kisah hidup 2 teman Tuli di Kota Kupang untuk menghadirkan realitas dan mengadvokasi suara mereka. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode life history dalam kerangka Normalization, Three Pardigms Social Solidarity, Public Sphere, Recognition, dan Redistribution. Hasil temuan menunjukkan bahwa masih banyak normalisasi yang direproduksi dan diinternalisasi oleh keluarga, masyarakat, maupun negara dan mengeksklusi teman Tuli. Normalisasi yang dihidupkan dalam kalangan publik tidak lepas dari ketiadaan pengakuan kepada teman Tuli sebagai individu yang setara, sehingga turut berdampak pada ketiadaan akses bagi teman Tuli. Walaupun telah ada kebijakan yang mengatur mengenai hak disabilitas, namun praktik teknokratis belum sepenuhnya memperjuangkan pengakuan dan akses bagi teman Tuli. Dalam dilema normalisasi yang ada, teman Tuli juga harus memperjuangkan pengakuan dan akses sebagai individu yang setara dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Realitas-realitas ini kemudian menjadi pertanyaan reflektif “Apakah hari ini lingkungan telah inklusif? Sudahkah kebijakan sosial hari ini menepi untuk melihat realitas disabilitas? Lalu apakah pengakuan dan redistribusi akses akan terwujud bagi teman Tuli di tengah tantangan Indonesia hari ini?”

Kata Kunci: Teman Tuli, Normalisasi, Eksklusi, Pengakuan, Redistribusi Akses

There is still so much normalization, lack of recognition, and maldistribution of access for deaf friends to this day. Thus, this study explores the life stories of two deaf friends in Kupang City to present their reality and advocate for their voices. Data collection was conducted using the life history method within the framework of Normalization, Three Paradigms of Social Solidarity, Public Sphere, Recognition, and Redistribution. The findings reveal that normalization is still reproduced and internalized by families, society, and the state, thereby excluding deaf friends. The normalization perpetuated in public spheres is inseparable from the lack of recognition of deaf friends as equal individuals, which in turn impacts their lack of access. Although there are policies regulating disability rights, technocratic practices have not fully advocated for recognition and access for deaf friends. In the existing normalization dilemma, deaf friends must also fight for recognition and access as equal individuals within families, society, and the state. These realities then raise reflective questions: “Is today's environment inclusive? Have today's social policies stepped aside to see the reality of disability? Will recognition and redistribution of access be realized for deaf friends amid Indonesia's challenges today?”

Keywords: Deaf Friends, Normalization, Exclusion, Recognition, Redistribution Access

Kata Kunci : Teman Tuli, Normalisasi, Eksklusi, Pengakuan, Redistribusi Akses

  1. S2-2025-513817-abstract.pdf  
  2. S2-2025-513817-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-513817-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-513817-title.pdf