Persepsi Dampak Socioeconomic Pembangunan Kereta Api Trans Sulawesi Studi Kasus pada Kelompok Pemerintah, Tokoh Masyarakat, Pedagang Lokal, Pekerja dan Wisatawan di Kabupaten Pangkep
Rahmatul Ihsan, Dr. Novi Paramita Dewi, SIP, MDP
2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Pembangunan kerap
kali dimaknai secara berbeda oleh setiap masyarakat, hal tersebut sangat
tergantung pada dinamika sosial, ekonomi, pendidikan serta keterpaparan
informasi mengenai proyek. Di kawasan Indonesia Timur, pembangunan
infrastruktur kereta api mulai dilaksanakan sejak 2015 melalui Proyek Strategis
Nasional (PSN). Kabupaten Pangkep, sebagai salah satu wilayah yang dilintasi
jalur Kereta Api Trans Sulawesi, menghadapi dinamika tersendiri antara peluang
percepatan pembangunan dan tantangan sosial-ekologis, terutama mengingat
statusnya sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Sulawesi
Selatan. Dampak sosial dan ekonomi digunakan untuk mengindentifikasi perbedaan
persepsi antar kelompok masyarakat. Dampak tersebut mencakup tiga dampak
lingkungan; Alih fungsi lahan, banjir, dan kebisingan. Dua dampak pariwisata;
aksesibilitas ke destinasi, dan jumlah kunjungan wisatawan. Dua dampak ekonomi;
peluang usaha baru dan harga lahan dan prooperti. Metode yang digunakan adalah studi
kasus dengan pendekatan kuaitatif eksplanatif untuk mengeksplorasi dampak yang
di alami oleh kelompok masyarakat. Penelitian ini menemukan variasi perbedaan persepsi
yang tidak terjadi secara kebetulan, melainkan sangat dipengaruhi oleh latar
belakang sosial, kondisi ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat. Kelompok
masyarakat yang memiliki posisi sosial yang lebih kuat, pendidikan yang lebih
tinggi, serta akses terhadap informasi formal, cenderung memandang proyek ini
secara lebih rasional dan seimbang. Sebaliknya, masyarakat yang secara
geografis maupun struktural berada di posisi marginal lebih rentan membentuk
persepsi negatif. Ketidakpercayaan terhadap pembangunan sering kali tumbuh dari
pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan, terbatasnya akses informasi,
serta kekhawatiran kolektif yang diwariskan secara sosial. Oleh karena itu,
rekomendasi yang dapat ditawarkan meliput: Mengintegrasikan variabel persepsi
dampak ke dalam tahapan PSN, penguatan kapasitas pemerintah lokal sebagai
mediator sosial serta membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam proyek.
Development is
often perceived differently by various segments of society, depending on their
social dynamics, economic conditions, education levels, and access to project-related
information. In Eastern Indonesia, railway infrastructure development has been
underway since 2015 as part of the National Strategic Project (PSN). Pangkep
Regency, one of the regions traversed by the Trans Sulawesi Railway, faces
unique dynamics between the potential for accelerated development and
socio-ecological challenges, especially considering its status as the region
with the highest poverty rate in South Sulawesi. This study investigates social
and economic impacts by identifying differences in perception among community
groups. The impacts examined include three environmental aspects (land use
conversion, flooding, and noise), two tourism-related aspects (accessibility to
destinations and tourist visits), and two economic aspects (new business
opportunities and land/property prices). A case study method with an
explanatory qualitative approach was used to explore these perceived impacts.
The study found that variations in perception are not coincidental but are
significantly influenced by social background, economic conditions, and
education levels. Communities with stronger social positions, higher education,
and better access to formal information tend to have a more rational and
balanced view of the project. Conversely, geographically and structurally
marginalized groups are more prone to form negative perceptions. Distrust
toward the development often stems from past negative experiences, limited
access to information, and collective concerns passed down socially. Therefore,
the study recommends integrating perception-related variables into PSN planning
stages, strengthening local government capacity as social mediators, and
creating space for community participation in the project.
Kata Kunci : Kereta Api Trans Sulawesi, Persepsi Masyarakat, Dampak Sosial Ekonomi