Perencanaan Transportasi Publik Terintegrasi untuk Meningkatkan Konektivitas dan Aksesibilitas di Kawasan Perkotaan Purwokerto, Kabupaten Banyumas
Muhammad Ardi Fadillah, Dr. Yori Herwangi, S.T., MURP.
2025 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Kabupaten Banyumas, Kawasan Perkotaan Purwokerto memiliki keragaman aktivitas yang menumbuhkan pusat-pusat pelayanan baru sehingga mobilitas ikut meningkat. Namun, faktanya pelayanan transportasi publik untuk mewadahi mobilitas ini belum menjangkau seluruh wilayah. Transportasi publik yang dilayani oleh moda bus dan angkot saat ini juga memiliki masalah tumpang tindih rute yang menyebabkan rute angkot berhenti beroperasi dan jangkauan layanan menurun. Kedua hal ini menunjukkan indikator konektivitas dan aksesibilitas yang belum optimal. Permasalahan di perkotaan ini memerlukan solusi dengan tujuan meningkatkan konektivitas, aksesibilitas, dan integrasi wilayah.
Sebagai solusi, perencanaan ini mengadopsi konsep transportasi publik dengan sistem multimodal terintegrasi yang mengintegrasikan guna lahan, jaringan, dan kelembagaan transportasi publik. Metode yang digunakan adalah metode spasial berbasis konektivitas dan aksesibilitas yang berfokus pada keterhubungan pusat-pusat pelayanan dengan memperhatikan indikator-indikator yang relevan. Komponen yang menjadi fokus pada perencanaan ini meliputi rute, halte, dan teknis operasional. Berdasarkan komponen ini, perencanaan ini merekomendasikan 6 rute bus dan 12 rute angkot yang saling terintegrasi dengan headway (waktu antara kedatangan armada) maksimal 15 menit pada waktu puncak dan 30 menit pada waktu nonpuncak. Selain itu, perencanaan juga merekomendasikan pembangunan 42 halte dan 391 tempat pemberhentian bus dan angkot baru. Dengan asumsi tingkat pengembalian investasi di angka 10%, perencanaan ini tergolong layak diselenggarakan.
As the Regional Activity Center (RAC) of Banyumas Regency, Purwokerto Urban Area hosts diverse activities that foster new service centers, leading to increased mobility. However, public transportation services to accommodate this mobility have not yet reached all areas. The existing bus and minibus systems also face overlapping route issues, resulting in minibus routes ceasing operations and reduced service coverage. These problems indicate suboptimal connectivity and accessibility. Addressing these urban challenges requires solutions aimed at enhancing connectivity, accessibility, and regional integration.
Planning as a solution adopts the concept of public transportation with an integrated multimodal system that harmonizes land use, network, and public transportation institutions. The method used is a connectivity and accessibility-based spatial method that focuses on the connectivity of centers by considering relevant indicators. The components focused on in this plan include routes, bus stops, and operational technicalities. Based on these components, the plan recommends 6 bus routes and 12 minibus routes that are integrated with a maximum headway (time between vehicle arrivals) of 15 minutes during peak hours and 30 minutes during non-peak hours. In addition, the plan also recommends the construction of 42 bus stops and 391 new bus and minibus stops. Assuming a 10% rate of return, the plan is considered feasible.
Kata Kunci : Aksesibilitas, integrasi, Kawasan Perkotaan Purwokerto, konektivitas