Laporkan Masalah

Analisis Kekeluargaan Dalam Membangun Resiliensi Perusahaan Keluarga: Studi Pada PT. Sate Rembiga Goyang Lidah

Hadatin Pranastiti, Prof. Nurul Indarti, Sivilokonom., Cand.Merc., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Manajemen

Penelitian ini mengeksplorasi fenomena kekeluargaan dalam membangun resiliensi perusahaan keluarga dengan studi kasus pada PT. Sate Rembiga Goyang Lidah yang telah berhasil bertahan hingga generasi ketiga dalam industri kuliner tradisional. Dilaksanakan pada bulan Februari hingga Maret 2025 di Lombok, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap empat narasumber yang mewakili manajemen puncak perusahaan, yaitu Direktur Utama, Kepala Divisi Keuangan, Kepala Divisi Produksi, dan Kepala Divisi Pemasaran. Penelitian ini mengaplikasikan teori kekeluargaan Habbershon & Williams (1999) dan model proses resiliensi Duchek (2020). PT. Sate Rembiga Goyang Lidah dipilih karena keberhasilan mempertahankan bisnis keluarga hingga generasi ketiga, sementara statistik menunjukkan bahwa hanya 30% bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi kedua dan kurang dari 15% yang mencapai generasi ketiga. Hasil penelitian mengidentifikasi empat aspek kekeluargaan yang terintegrasi: (1) warisan, yang mencakup narasi sejarah, resep kuliner turun-temurun, dan sistem transfer pengetahuan; (2) prinsip bisnis dengan rasio keluarga-profesional 70:30 dan sistem pengambilan keputusan berbasis musyawarah; (3) reputasi dan identitas keluarga sebagai jaminan kualitas; dan (4) motivasi dan komitmen untuk berinovasi. PT. Sate Rembiga Goyang Lidah mengimplementasikan tiga tahapan dalam membangun resiliensi: tahap antisipasi (pemantauan pasar, perencanaan inovasi), tahap mengatasi (pengambilan keputusan, implementasi solusi), dan tahap adaptasi (pembelajaran dan

transformasi). Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dengan memperluas teori "kekeluargaan" Habbershon & Williams (1999), menunjukkan bahwa aspek-aspek keluarga tidak hanya menjadi sumber keunggulan kompetitif tetapi juga mekanisme aktif dalam membangun resiliensi. Studi ini menghasilkan konstruksi teoretis baru, yaitu "warisan sebagai platform inovasi" yang mentransformasi pemahaman paradoks tradisi-inovasi dalam bisnis keluarga. Penelitian ini juga memperkaya model proses resiliensi Duchek (2020) dengan mengintegrasikan perspektif kekeluargaan ke dalam tiga tahap resiliensi, mengungkap bahwa karakteristik unik bisnis keluarga menciptakan dinamika resiliensi yang berbeda dari bisnis non-keluarga.


Kata kunci: kekeluargaan, resiliensi organisasi, perusahaan keluarga, warisan, inovasi.

This research explores the phenomenon of familiness in building the resilience of family companies with a case study of PT. Sate Rembiga Goyang Lidah which has successfully survived until the third generation in the traditional culinary industry. Conducted from February to March 2025 in Lombok, the research used a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through semi-structured in-depth interviews with four resource persons representing the company's top management, namely the President Director, Head of Finance Division, Head of Production Division, and Head of Marketing Division. This research applies Habbershon & Williams (1999) familiness theory and Duchek et al. (2020) resilience process model. PT Sate Rembiga Goyang Lidah was chosen due to the success of maintaining the family business until the third generation, while statistics show that only 30% of family businesses survive to the second generation and less than 15% reach the third generation. The research results identified four integrated aspects of familiness: (1) heritage, which includes historical narratives, hereditary culinary recipes, and knowledge transfer systems; (2) business principles with a 70:30 family-professional ratio and a deliberation-based decision-making system; (3) family reputation and identity as quality assurance; and (4) motivation and commitment to innovate. PT Sate Rembiga Goyang Lidah implements three stages in building resilience: anticipation stage (market monitoring, innovation planning), coping stage (decision making, solution implementation), and adaptation stage (learning and transformation). This study makes a theoretical contribution by extending Habbershon & Williams' (1999) familiness theory, showing that family aspects are not only a source of competitive advantage but also an active mechanism in building resilience. This study generates a new theoretical construct, namely legacy as an innovation platform? that transforms the understanding of the tradition-innovation paradox in family businesses. This research also enriches Duchek's (2020) resilience process model by integrating the familial perspective into the three stages of resilience, revealing that the unique characteristics of family businesses create different resilience dynamics from non-family businesses.


Keywords: Familiness, organizational resilience, family firm, legacy, innovation.

Kata Kunci : Kata kunci: kekeluargaan, resiliensi organisasi, perusahaan keluarga, warisan, inovasi. / Keywords: Familiness, organizational resilience, family firm, legacy, innovation.

  1. S2-2025-530579-abstract.pdf  
  2. S2-2025-530579-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-530579-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-530579-title.pdf