Laporkan Masalah

Kemampuan Persepsi dan Produksi Koutei Akusento Pemelajar Bahasa Jepang: Studi Kasus Beberapa Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Universitas Gadjah Mada, Angkatan 2020–2022

VIDYA KUMALA SARI, Dr. Wiwik Retno Handayani, S.S., M.Hum.

2025 | Skripsi | SASTRA JEPANG

Bahasa Jepang memiliki aksen yang didasarkan pada perubahan tinggi rendahnya nada dalam mengucapkan kata yang dikenal dengan istilah koutei akusento. Fenomena ini berbeda dengan bahasa Indonesia yang tidak mengenal konsep aksen semacam itu. Perbedaan ini pun berdampak pada cara penutur jati bahasa Indonesia memersepsi dan memproduksi aksen bahasa Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan persepsi dan produksi koutei akusento di kalangan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Gadjah Mada dari semester enam (angkatan 2020), empat (angkatan 2021), dan dua (angkatan 2022) serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pemerolehan aksen tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi campuran, dengan pengumpulan data melalui angket, tes pendengaran, dan tes pengucapan yang dilakukan oleh para responden. Data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan teori fonologi umum dan teori fonologi bahasa Jepang (on’inron) untuk menilai sejauh mana kemampuan persepsi dan produksi koutei akusento para responden. Teori pemerolehan bahasa kedua melalui perspektif behaviorisme juga diterapkan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemerolehan aksen ini. Selain itu, perangkat lunak Praat juga digunakan dalam menganalisis produksi koutei akusento responden untuk mendapatkan data yang konkret berupa besaran frekuensi dan grafik pitch. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan persepsi dan produksi koutei akusento para responden masih tergolong rendah. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemerolehan kemampuan ini, di antaranya adalah lama kontak responden dengan media audio dan audiovisual berbahasa Jepang serta frekuensi kontak responden dengan media audiovisual berbahasa Jepang.

Japanese has an accent based on the change in pitch in pronouncing words known as koutei akusento. This phenomenon is different from Indonesian, which does not recognise the concept of such accent. This difference also has an impact on the way native Indonesian speakers perceive and produce Japanese accent. This study aims to describe the perception and production abilities of koutei akusento among students of the Japanese Language and Culture Study Program at Universitas Gadjah Mada from the sixth semester (2020 cohort), fourth semester (2021 cohort), and second semester (2022 cohort) and to identify the factors that influence the acquisition of the accent. This study used a mixed methodology approach, with data collection through questionnaires, listening tests, and pronunciation tests done by the respondents. The data were then analysed using the theory of phonology in general and phonology in Japanese (on'inron) to assess the extent of the respondents' koutei akusento perception and production abilities. The theory of second language acquisition through the perspective of behaviourism was also applied to analyse the factors influencing the acquisition of the accent. In addition, Praat software was also used in analysing the respondents' koutei akusento production to obtain concrete data in the form of frequency and pitch graphs. The findings of this study showed that the perception and production abilities of the respondents' koutei akusento were still relatively low. The factors that influence the acquisition of these abilities include the respondents' length of contact with Japanese audio and audiovisual media and the frequency of contact with Japanese audiovisual media.

Kata Kunci : koutei akusento, persepsi, produksi, pemerolehan bahasa kedua, Praat

  1. S1-2025-460062-abstract.pdf  
  2. S1-2025-460062-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-460062-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-460062-title.pdf