REPRESENTASI AKTOR DALAM PEMBERITAAN POLUSI UDARA JAKARTA DI SITUS WEB PEMERINTAH DAN CNN INDONESIA: PERSPEKTIF EKOLINGUISTIK
Nada Fadhilah, Prof. Dr. Suhandano, M. A.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Polusi udara di Jakarta merupakan permasalahan lingkungan yang mendesak. Dalam pemberitaan mengenai isu tersebut, media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pencitraan aktor melalui strategi pemberitaan tertentu. Pemerintah lebih sering direpresentasikan sebagai pihak inovatif, sedangkan industri dan masyarakat diposisikan sebagai aktor utama yang disalahkan atas polusi udara. Representasi tersebut mencerminkan peran media dalam membentuk persepsi publik terhadap aktor yang dianggap bertanggung jawab atas permasalahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi aktor yang mengatasi dan menyebabkan polusi udara dalam pemberitaan polusi udara Jakarta di situs resmi pemerintah dan CNN Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis korpus dengan bantuan perangkat lunak AntConc. Data penelitian ini berita daring polusi dan pencemaran udara yang diterbitkan pada Agustus 2023 hingga Februari 2024. Data dianalisis menggunakan teori analisis wacana kritis Leeuwen (2008) tentang strategi inklusi dan eksklusi serta teori ekolinguistik Stibbe (2021) mengenai penghapusan (erasure). Temuan ini mengungkapkan bahwa kedua media menggunakan strategi inklusi untuk menonjolkan relasi kekuasaan dengan lebih menekankan pada aktor yang menangani polusi daripada aktor yang dianggap sebagai penyebabnya. Selain itu, terdapat perbedaan dalam representasi aktor penyebab polusi udara: aktor penyebab lebih banyak ditemukan di situs CNN Indonesia dibandingkan situs web pemerintah. Aktor yang mengatasi polusi udara, seperti pejabat tinggi dan instansi pemerintahan (Satgas Pengendalian Pencemaran Udara dan Penjabat Gubernur Jakarta Heru) lebih sering direpresentasikan. Sebailiknya, aktor penyebabnya hanya sedikit digambarkan dan diubah menjadi entitas non-manusia (industri dan kendaraan). Implikasi representasi aktor tersebut menunjukkan cara media membentuk konstruksi tanggung jawab lingkungan, melalui penawaran solusi berupa kebijakan yang diajukan oleh para aktor tersebut.
Air pollution in Jakarta is a pressing environmental issue. In reporting on this issue, the media not only retrieved on information, but also builds the labeling of the actor through certain news strategies. The government is more often represented as the innovative actor, while industry and society are positioned as the main actors to blame for air pollution. reflect the media's role in shaping public perceptions of actors deemed responsible for environmental problems. This study focuses on describing the representation of actors overcoming and causing air pollution in Jakarta's air pollution news on the government's official website and CNN Indonesia. This research uses a corpus-based qualitative method with the help of AntConc software. The research data is online news on polusi and pencemaran udara published from August 2023 to February 2024. The data were analyzed using Leeuwen's (2008) critical discourse analysis theory on inclusion and exclusion strategies and Stibbe's (2021) ecolinguistic theory on erasure. The study reveals that both media outlets use inclusion strategies to accentuate power relations by emphasizing actors dealing with pollution rather than those perceived as its cause. Additionally to, there is a difference in the representation of causal actors in air pollution: causal actors are found more on CNN Indonesia websites than government websites. Actors addressing air pollution, such as high-ranking officials and government agencies (Satgas Pengendalian Pencemaran Udara and Penjabat Gubernur Jakarta Heru) are more often represented. Otherwise, the causal actors are only minimally depicted and transformed into non-human entities (industri and kendaraan). The implications of these actor representations show the media's way of shaping the construction of environmental responsibility, through offering solutions in the form of policies proposed by these actors.
Kata Kunci : polusi udara, ekolinguistik, representasi aktor, penghapusan aktor