Laporkan Masalah

Perencanaan Komunikasi Program Keluarga Berencana (KB) untuk Mengatasi Unmet Need (Studi Kasus: Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Yogyakarta Tahun 2023-2024)

Tiara Nurwita, Dr. Rajiyem, S.I.P., M.Si.

2025 | Tesis | S2 Ilmu Komunikasi

Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia menghadapi tantangan signifikan terkait unmet need, yaitu kebutuhan kontrasepsi yang belum terpenuhi. Di Kota Yogyakarta, pada tahun 2023, tingkat unmet need tercatat sebesar 17,23%, menunjukkan bahwa program KB di daerah ini belum sepenuhnya efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan komunikasi yang diterapkan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta dalam upaya menurunkan unmet need tersebut. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi kesehatan, khususnya teori The New P-Process, untuk mengevaluasi peran DP3AP2KB dalam merancang dan mengevaluasi program KB. Dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen dengan empat informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan komunikasi program KB di Kota Yogyakarta dilakukan melalui lima tahapan utama: analisis situasi, perancangan strategi, pengembangan dan uji coba, implementasi dan pemantauan, serta evaluasi dan perencanaan ulang . Tujuan utama dari proses ini adalah untuk mengurangi unmet need dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program KB. Meskipun melibatkan berbagai pemangku kepentingan, tantangan utama program KB meliputi kesenjangan informasi, hambatan budaya, dan koordinasi yang kurang efektif. Keberhasilannya bergantung pada kolaborasi antar pemangku kepentingan, peningkatan literasi kesehatan masyarakat, serta pemanfaatan media yang tepat untuk penyebaran informasi yang lebih luas dan efektif.

The Family Planning (FP) program in Indonesia faces significant challenges related to unmet need, which refers to the unmet contraceptive demand. In Yogyakarta City, in 2023, the unmet need rate was recorded at 17.23%, indicating that the FP program in this area has not been fully effective. This study aims to analyze the communication planning implemented by the Office of  Women's Empowerment, Child Protection, Population Control, and Family Planning Office (DP3AP2KB) of Yogyakarta City in an effort to reduce this unmet need. The study utilizes health communication theory, specifically The New P-Process theory, to evaluate the role of DP3AP2KB in designing and assessing the FP program. Using a qualitative approach and a case study design, data were collected through interviews, observations, and document studies with four informants selected using purposive sampling. The results show that the communication planning of the FP program in Yogyakarta City is carried out through five main stages: situation analysis, strategy design, development and testing, implementation and monitoring, and evaluation and re-planning. The primary goal of this process is to reduce unmet need and increase community participation in the FP program. Despite involving various stakeholders, the main challenges of the FP program include information gaps, cultural barriers, and ineffective coordination. Its success relies on effective collaboration among stakeholders, improving public health literacy, and utilizing appropriate media to ensure broader and more effective information dissemination.

Kata Kunci : Komunikasi kesehatan, perencanaan komunikasi, unmet need, keluarga berencana, P-Process / Health communication, communication planning, unmet need, family planning, P-Process

  1. S2-2025-527727-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527727-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527727-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527727-title.pdf