Analisis Campur Kode dan Alih Kode Pada Program About Jeans Pada Kanal Youtube New Jeans
Louisa Christy Vallerin, Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D.
2025 | Skripsi | BAHASA KOREA
Penelitian ini membahas alih kode dan campur kode yang dilakukan oleh grup multilingual asal Korea Selatan bernama New Jeans dari kanal Youtube New Jeans pada program About Jeans. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, jenis penggunaan berdasarkan teori Suwito (1985) dan faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode dan campur kode berdasarkan teori teori Grosjean (1982). Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif.
Hasil analisis menunjukkan bahwa dari segi anggota penutur asli Korea, terdapat bentuk, yaitu (1) alih kode eksternal bahasa Korea-Inggris, (2) campur kode penyisipan kata, (3) campur kode penyisipan baster, dan (4) campur kode penyisipan pengulangan kata. Namun, tidak ditemukan campur kode penyisipan frasa dan campur kode penyisipan klausa. Di sisi lain, dari segi anggota penutur asing berbahasa Inggris, terdapat bentuk, yaitu (1) alih kode eksternal bahasa Korea-Inggris, (2) campur kode penyisipan kata, (3) campur kode penyisipan frasa, (4) campur kode penyisipan klausa, (5) campur kode penyisipan baster. Namun, tidak ditemukan campur kode penyisipan pengulangan kata. Faktor penyebab variasi bahasa yang ditemukan, yaitu (1) faktor partisipan yang dipengaruhi oleh karakteristik penutur, (2) faktor isi wacana yang dipengaruhi oleh tipe kosakata yang dikuasai dan topik pembicaraan yang mendukung, (3) faktor situasi yang dipengaruhi oleh adanya pembicara monolingual, (4) faktor fungsi interaksi, dan (5) faktor gabungan yang mengandung kedua unsur dari faktor di atas.
Melihat dari penggunaan alih kode dan campur kode, penutur asing berbahasa Inggris menunjukkan frekuensi dan keragaman yang lebih tinggi dalam penggunaan alih kode dan campur kode dibandingkan penutur asli Korea Selatan. Variasi unsur kebahasaan mencakup tingkat kata, frasa, klausa, hingga kalimat. Sebaliknya, penutur asli Korea cenderung terbatas pada tingkat kata dan baster. Perbedaan ini dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan dan keluarga, di mana penutur asing umumnya tumbuh dalam lingkungan multibahasa, sementara penutur asli Korea lebih terbatas penggunaannya karena dominasi lingkungan berbahasa Korea dan konteks penggunaan bahasa Inggris yang lebih sempit.
This study discusses code-switching and code-mixing conducted by the multilingual South Korean group New Jeans on their YouTube channel program, About Jeans. The purpose of this research is to describe the forms and types of usage based on Suwito’s (1985) theory and the factors causing code-switching and code-mixing based on Grosjean’s (1982) theory. This study uses a qualitative method.
The analysis results show that among native Korean-speaking members, the following forms were found: (1) external code-switching between Korean and English, (2) word-level code-mixing, (3) code-mixing through insertion of "baster" (blended words), and (4) code-mixing through word repetition. However, phrase-level and clause-level code-mixing were not found. On the other hand, among English-speaking foreign members, the following forms were found: (1) external code-switching between Korean and English, (2) word-level code-mixing, (3) phrase-level code-mixing, (4) clause-level code-mixing, and (5) code-mixing through insertion of baster. However, word repetition code-mixing was not found. The factors influencing these language variations include: (1) participant factors influenced by speaker characteristics, (2) discourse content factors influenced by vocabulary types mastered and relevant topics, (3) situational factors influenced by the presence of monolingual speakers, (4) interaction function factors, and (5) combined factors that contain elements of the aforementioned factors.
In terms of code-switching and code-mixing usage, English-speaking foreign members demonstrate higher frequency and diversity compared to native Korean members. The linguistic variation spans words, phrases, clauses, and sentences. In contrast, Korean native speakers tend to be limited to words and baster insertions. This difference is influenced by background and environment, where foreign speakers generally grow up in multilingual settings, while native Korean speakers are more limited due to the dominance of the Korean-speaking environment and narrower contexts for English use.
Kata Kunci : Variasi bahasa, Campur Kode, Alih Kode, New Jeans