Membaca Kembali Relief Cerita Sri Tanjung: Kajian Simone De Beauvoir
Ni Kadek Wulan Dwi Apsari W, Dwi Pradnyawan, S.S., M.A.
2025 | Skripsi | ARKEOLOGI
Penelitian
ini sebagai upaya untuk membaca kembali representasi perempuan dalam relief
cerita Sri Tanjung dengan menerapkan kajian dari Simone de Beauvoir, khususnya
konsep the Other dan konstruksi sosial terhadap perempuan. Pentingnya kesadaran perempuan maupun
laki-laki dalam memahami keselarasan gender menjadi salah satu yang
melatarbelakangi penelitian ini.
Cerita Sri Tanjung yang muncul pada masa Majapahit terukir pada relief
candi-candi di Jawa Timur, yaitu Candi Panataran, Surawana, Jabung dan Gapura
Bajang Ratu yang dimaknai sebagai kisah kesetiaan seorang istri. Relief Sri
Tanjung di candi Panataran dipilih untuk dibaca kembali dengan pandangan Simone.
Pendekatan kualitatif-deskriptif digunakan dalam penelitian, dimana penulis mengumpulkan
data melalui studi pustaka dan melakukan observasi.
Hasil
analisis menunjukkan bahwa tokoh Sri Tanjung digambarkan sebagai figur
perempuan ideal yang diposisikan dalam relasi subordinatif terhadap laki-laki,
namun juga menunjukkan resistensi terhadap objektifikasi dan pembuktian nilai
moral pribadi. Kerangka teori Beauvoir, Sri Tanjung mengalami proses othering,
namun tetap memiliki potensi agensi melalui tindakan dan pilihan yang
dilakukannya. Pemaknaan ulang dalam konteks sosial modern sebagai ruang kritik
dan refleksi atas relasi gender dalam masyarakat. Selain itu, figur Sri Tanjung
juga menunjukkan simbol perjuangan perempuan untuk mendapatkan pengakuan
identitas secara otonom di tengah struktur patriarki.
Penelitian
ini menegaskan pentingnya merefleksikan narasi budaya masa lalu melalui lensa
kritis agar dapat memberikan kontribusi terhadap wacana kesetaraan gender dan
relevansi nilai-nilai tersebut dalam masyarakat kontemporer.
This study is an attempt to re-read the
representation of women in the relief of the Sri Tanjung story by applying
Simone de Beauvoir's study, especially the concept of the Other and the social
construction of women. The importance of women's and men's awareness in
understanding gender harmony is one of the reasons behind this study. The story
of Sri Tanjung that emerged during the Majapahit era is engraved on the reliefs
of temples in East Java, namely Panataran Temple, Surawana, Jabung and Gapura
Bajang Ratu which are interpreted as a story of a wife's loyalty. The Sri
Tanjung relief at Panataran Temple was chosen to be re-read with Simone's
perspective. A qualitative-descriptive approach was used in the study, where
the author collected data through literature studies and conducted
observations. The results of the analysis show that the character of Sri
Tanjung is depicted as an ideal female figure who is positioned in a
subordinate relationship to men, but also shows resistance to objectification
and proof of personal moral values. Beauvoir's theoretical framework, Sri
Tanjung undergoes an othering process, but still has the potential for agency
through the actions and choices she makes. Re-interpretation in a modern social
context as a space for criticism and reflection on gender relations in society.
In addition, the figure of Sri Tanjung also shows a symbol of women's struggle
to gain recognition of their autonomous identity amidst patriarchal structures.
This study
emphasizes the importance of reflecting on past cultural narratives through a
critical lens in order to contribute to the discourse on gender equality and
the relevance of these values ??in contemporary society.
Kata Kunci : Sri Tanjung, Gender, Simone de Beauvoir, Feminisme, Perempuan.