Laporkan Masalah

PERANCANGAN MODEL BISNIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM TERINTEGRASI “NAFASPORA”

Najihatul Mujahidah, Rocky Adiguna, SE., M.Sc., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Manajemen

 Usaha budidaya jamur tiram Daerah Istimewa Yogyakarta, utamanya di Kabupaten Sleman, sangatlah potensial untuk dilakukan. Dengan jumlah konsumsi yang selalu melebihi tingkat produksinya, usaha budidaya jamur tiram masih menunjukkan peluang yang besar bagi para pemain baru. Tak hanya dalam bentuk sayuran segar saja, jamur tiram juga dapat dipasarkan dalam bentuk makanan olahan seperti jamur krispi kemasan. Hal ini selain akan menambah umur simpan produk, tetapi juga akan meningkatkan nilai jual yang dimilikinya. Di sisi lain, meningkatnya isu bisnis yang berkelanjutan menuntut bisnis untuk bertransformasi ke arah yang lebih ‘hijau’ atau ekonomi sirkular. Pada usaha budi daya jamur tiram, penerapan ekonomi sirkular dapat dilakukan dengan pengolahan limbah pada media tanam jamur (baglog) yang telah habis masa tanamnya (afkir). Baglog afkir ini nantinya akan diolah menjadi media budidaya cacing yang akan menghasilkan pupuk bekas cacing (kascing) atau vermikompos. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model bisnis bagi perusahaan ‘Nafaspora’, yaitu perusahaan yang bergerak di budidaya jamur tiram terintegrasi, yang terintegrasi pula dengan pengolahan limbahnya menjadi pupuk kascing. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kelayakan Nafaspora secara finansial. Metode penelituan yang digunakan adalah kualitatif melalui pendekatan analisisi konten melalui observasi non keperilakuan kepada usaha sejenis dan wawancara kepada pelaku usaha dan calon pelanggan potensial. Observasi dilakukan pada kondisi fisik dan proses pada 4 lokasi usaha sejenis, adapun wawancara dilakukan kepada 5 pelaku usaha, 5 pelanggan potensial jamur krispi kemasan, dan 5 pelanggan potensial pupuk kascing. Data yang diperolah digunakan untuk menyusun kanvas model bisnis (BMC) dan peta empati. Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapatkan bahwa modal yang dibutuhkan perusahaan Nafaspora adalah Rp60.097.500,00 dengan NPV sebesar Rp211.329.043,92, IRR 64%, dan PP selama 3 tahun 2 bulan. Oleh karena itu, perusahaan Nafaspora layak secara finansial untuk dijalankan.

The cultivation of oyster mushrooms in the Special Region of Yogyakarta, especially in Sleman Regency, has great potential. With the amount of consumption always exceeding the level of production, the oyster mushroom cultivation business still shows great opportunities for new players. Not only in the form of fresh vegetables, oyster mushrooms can also be marketed in the form of processed foods such as packaged krispi mushrooms. This will not only increase the shelf life of the product, but will also increase its selling value. On the other hand, the increasing issue of sustainable business requires businesses to transform towards a more 'green' or circular economy. In the oyster mushroom cultivation business, the application of the circular economy can be done by processing waste on mushroom growing media that have expired their growing period . These non-productive media will later be processed into worm cultivation media that will produce vermicompost. This research aims to design a business model for the company 'Nafaspora', which is a company engaged in integrated oyster mushroom cultivation, which is also integrated with the processing of its waste into vermicompost. This research also aims to determine the financial viability of Nafaspora. The research method used is qualitative through a content analysis approach through non-behavioral observations of similar businesses and interviews with business actors and potential customers. Observations were conducted on the physical conditions and processes at 4 similar business locations, while interviews were conducted with 5 business actors, 5 potential customers of packaged krispi mushrooms, and 5 potential customers of vermicompost fertilizer. The data obtained was used to compile a business model canvas (BMC) and empathy map. Based on the analysis conducted, it is found that the capital required by the Nafaspora company is IDR 60,097,500.00 with an NPV of IDR 211,329,043.92, IRR of 64%, and PP for 3 years and 2 months. Therefore, the Nafaspora company is financially feasible to run

Kata Kunci : Budidaya jamur tiram terintegrasi, jamur krispi kemasan, pupuk kascing, BMC, peta empati, ekonomi sirkular

  1. S2-2025-510244-abstract.pdf  
  2. S2-2025-510244-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-510244-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-510244-title.pdf