EVALUASI LINGKUNGAN KERJA DAN FISIOLOGI DALANG PADA PENTAS WAYANG KULIT
Cahyo Sumunar, Ir. Rini Dharmastiti, M.Sc. Ph.D., IPM. ASEAN. Eng
2009 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRIUsaha untuk memahami lingkungan kerja dan fisiologi dalang, khususnya dalam pentas wayang kulit, perlu dilakukan untuk mendapatkan pemahaman dan pengetahuan teknis yang logis dan rasional. Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan data, informasi, dan pengetahuan mengenai evaluasi lingkungan kerja dan fisiologi dalang pada pentas wayang kulit. Kondisi lingkungan kerja yang dievaluasi pada penelitian ini meliputi level kebisingan, pencahayaan, dan kenyamanan temperatur. Sedangkan kondisi fisiologi kerja yang dievaluasi didasarkan pada denyut nadi dalang ketika merekonstruksi kegiatan pentas wayang. Penelitian ini dilakukan di lima tempat dengan melibatkan dua orang dalang dan seorang pemain gamelan. Pengukuran yang dilakukan meliputi pengukuran level bunyi yang diterima dalang selama satu periode pentas dan yang dihasilkan perangkat gamelan, pengukuran tingkat pencahayaan, pengukuran temperatur lingkungan kerja, pengukuran denyut jantung yang mengindikasikan konsumsi energi kerja, dan evaluasi postur kerja. Pengukuran level bunyi pada pentas wayang dilakukan dengan interval satu menit dan respon alat pada posisi lambat, sedangkan pengukuran level bunyi yang dihasilkan perangkat gamelan dilakukan dengan interval lima detik selama jangka waktu dua menit dan respon alat pada posisi cepat. Perangkat gamelan yang diukur berjumlah 24 buah dengan masing-masing berada dalam kondisi standar. Hasil penelitian yang didapat menunjukkan perangkat gamelan yang menimbulkan level bunyi terbesar adalah demung laras slendro pada permainan keras, dan bonang penerus laras slendro untuk permainan biasa. Sedangkan untuk kondisi lingkungan kerja dalang didapati bahwa pada kasus 1 dan 3 yang dilakukan di tempat terbuka tidak memenuhi standar dari faktor kebisingan, namun telah sesuai dari faktor kenyamanan temperatur dan pencahayaan. Pada pembahasan energi yang dikeluarkan, dengan usia dan berat badan dalang sebesar 61 tahun dan 55.5 kg, kegiatan pada kasus 1 dan 3 wayang kulit yang mengeluarkan energi terbesar ada pada adegan peperangan dengan keluaran energi sebesar 23.76 kJ/menit atau 5.67 kCal/menit dengan lama waktu kerja maksimum yang disarankan 14 menit dan 56 detik, serta lama waktu istirahat 41,87% dari lama waktu kerja. Evaluasi postur kerja dalang dengan menggunakan metode RULA menunjukkan gerakan yang menimbulkan risiko terbesar adalah menggerakkan 2 wayang atau lebih sekaligus dengan kedua tangan.
Kata Kunci : dalang, pertunjukkan wayang kulit, gamela