Analisis Penggunaan Lahan Permukiman di Kecamatan Ngemplak dan Kesesuaiannya Dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Wilayah Sleman Timur
Nadifa Aulia Putri Adiwibowo, Prof. Dr. Luthfi Muta'ali, S.Si., M.T.
2025 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH
Kebutuhan lahan merupakan kebutuhan dasar yang berubah seiring pertambahan pendudukan dan perkembangan wilayah. Keterbatasan lahan di Kota Yogyakarta mendorong perluasan permukiman ke Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi dinamika perkembangan penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Ngemplak; 2) menganalisis distribusi spasial perkembangan permukiman menurut zona peruntukan ruang yang ada dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR); dan 3) menganalisis kesesuaian penggunaan lahan permukiman di Kecamatan Ngemplak dengan RDTR Wilayah Sleman Timur didasarkan pada Tabel ITBX yang merupakan tabel ketentuan kegiatan penggunaan lahan yang menentukan tingkat perizinan penggunaan ruang, yaitu diizinkan (I), diizinkan terbatas (T), diizinkan bersyarat (B), dan tidak diizinkan (X).
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan unit analisis seluruh kelurahan di Kecamatan Ngemplak. Data yang digunakan meliputi data sekunder berupa dokumen RDTR Kawasan Sleman Timur 2021–2040, peta rencana pola ruang, serta Tabel ITBX, dan data primer berupa delineasi Citra Pleiades, observasi lapangan, dan dokumentasi. Data diolah melalui tahapan georeferencing, delineasi, verifikasi data dengan stratified random sampling dan uji akurasi, tabulasi, dan analisis spasial menggunakan ArcGIS.
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan luas permukiman dari 563,08 Ha pada 2014 menjadi 720,48 Ha pada 2024, dengan pola persebaran yang tetap mengelompok serta adanya konversi lahan non-permukiman menjadi permukiman. Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan terhadap RDTR menunjukkan bahwa pada tahun 2014 luas permukiman yang sesuai mencapai 33,18?n meningkat menjadi 53,10% pada tahun 2024. Klasifikasi cukup sesuai juga mengalami peningkatan dari 17,66% menjadi 26,61%, sementara klasifikasi belum sesuai menurun dari 46,91% menjadi 17,95%. Adapun klasifikasi tidak sesuai mengalami sedikit peningkatan dari 2,25% pada tahun 2014 menjadi 2,34% pada tahun 2024.
Land demand is a fundamental need that changes along with the increase in population and regional development. The limited availability of land in Yogyakarta City has driven the expansion of residential areas into surrounding regions, including Ngemplak District, Sleman Regency. Therefore, this study aims to: (1) identify the dynamics of residential land use development in Ngemplak District; (2) analyze the spatial distribution of residential development according to the zoning designations outlined in the Spatial Planning (RDTR); and 3) assess the suitability of residential land use in Ngemplak District with the RDTR of East Sleman, based on the ITBX Table, which outlines land use regulations determining the permitted levels of land use, namely: permitted (I), permitted with limitations (T), permitted conditionally (B), and not permitted (X).
This research employed a quantitative approach with the unit of analysis comprising all villages in Ngemplak District. The data used included secondary data, such as the RDTR document of East Sleman Region 2021–2040, spatial planning maps, and the ITBX Table, as well as primary data obtained through delineation of Pleiades Imagery, field observations, and documentation. Data processing involved georeferencing, delineation, verification through stratified random sampling and field accuracy tests, data tabulation, and spatial analysis using ArcGIS software.
The results show that the area of residential land increased from 563,08 hectares in 2014 to 720,48 hectares in 2024, with a spatial distribution pattern that remained clustered and evidence of conversion of non-residential land into residential use. The evaluation of land use suitability with the RDTR indicates that in 2014, 33,18% of the residential land was in accordance with the RDTR, rising to 53,10% by 2024. The "moderately suitable" classification also increased from 17,66% to 26,61%, while the "less suitable" classification declined from 46,91% to 17,95%. Meanwhile, the "unsuitable" classification showed a slight increase from 2,25% in 2014 to 2,34% in 2024.
Kata Kunci : Penggunan Lahan, Permukiman, Kesesuaian Penggunaan Lahan, Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).