Taktik dan Komunitas: Navigasi Pekerja Gig Fiverr di Indonesia dalam Strategi dan Ketidakpastian Kerja
HANA ZUSMA LAILA IKHSANI, Dr. Realisa Darathea Masardi, M. A,
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Bentuk kerja lepas bukan konsep baru dan telah mengambil porsi cukup besar dalam komposisi angkatan kerja di Indonesia. Kerja gig cloudwork berupa kerja lepas berbasis tugas yang dimediasi platform bertumbuh seiring kehadiran internet dan kebutuhan akan lapangan pekerjaan. Fiverr menjadi salah satu platform yang paling banyak digunakan oleh pekerja gig di Indonesia. Para pekerja gig Fiverr di Indonesia kemudian berkumpul dalam beberapa komunitas di ruang digital, salah satunya melalui grup FSI (Fiverr Seller Indonesia) dalam media sosial Facebook dengan lebih dari 81 ribu anggota—dan terus bertambah. Hal ini mengindikasikan terus bertambahnya pekerja gig, tetapi, masih belum terdapat regulasi khusus yang melindunginya. Ketidakpastian kerja yang dihadapi serta bagaimana para pekerja gig Fiverr berkomunitas menjadi hal yang menarik untuk ditelisik lebih jauh. Melalui metode etnografi digital dengan melakukan observasi partisipasi dan wawancara mendalam dengan tujuh informan yang dilakukan selama Juli 2024— Januari 2025. Tiga kategori data—archival, elicited, dan fieldnotes—yang telah didapat, dianalisis dengan dua kerangka pemikiran yaitu teori precariat dan practice of everyday life. Ditemui bahwa para pekerja gig Fiverr berada dalam kondisi prekariat dengan berbagai bentuk ketidakpastian kerja dan bentuk resistensi dengan penyebaran informasi dan taktik melalui komunitas dipilih sebagai cara pekerja gig Fiverr bertahan dan melawan sistem yang belum berpihak pada keamanan kerja mereka. Taktik yang dilakukan merupakan metode melalui praktik keseharian untuk menavigasi Fiverr sebagai strategi yang menghadirkan beberapa ketidakpastian yang menempatkan mereka pada kondisi prekariat. Solidaritas digital menjadi katalis bagi berjalannya penyebaran praktik dan resistensi yang terbentuk kemudian.
Freelancing was not a new concept and has taken a large portion in the composition of the workforce in Indonesia. Gig work, a form of platform-mediated task-based freelance work, has grown with the advent of the internet. Fiverr is one of the platforms which was most widely used by gig workers in Indonesia. Fiverr’s gig workers in Indonesia then gather in several communities in a digital landscape, one of which is through the FSI (Fiverr Seller Indonesia) Facebook group with more than 83 thousand members—and still continues to grow overtime. This indicates that the number of gig workers continues to increase, however, there are still no specific regulations that protect them as a worker. It is interesting to see how Fiverr’s gig workers build and utilize its community as to how they navigate the challenge they faced. Digital ethnography was used to collect empirical data by conducting participant observation and in-depth interviews with seven informants in July 2024–January 2025. The three categories of data—archival, elicited, and fieldnotes—that were obtained were analysed using two frameworks; precarity and practice of everyday life. It was found that Fiverr gig workers were in precarious conditions and facing various forms of job and work uncertainty. Appropriating the constraints of strategies--Fiverr and gig economy--that the faced, various tactic were then created, spread, and carried out. The tactics used are methods through daily practice to navigate Fiverr as a strategy that presents several uncertainties that place them in a precariat condition. The community becomes a catalyst for the spread of the tactic practices and resistance among the workers.
Kata Kunci : Fiverr, pekerja gig, Indonesia, prekariat, komunitas, taktik