Pengaruh Strategi Metode Pendekatan Student Centered Learning Terhadap Proses Pembelajaran Keterampilan Klinis Pada Mahasiswa Kedokteran
Raihanah Ardiella Syifa Kusuma, dr. Rr. Siti Rokhmah Projosasmito, M.Ed.(L,P&C), FFRI ; dr. Savitri Shitarukmi, MHPE
2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang : Pendidikan kedokteran bertujuan untuk menghasilkan tenaga medis yang kompeten, tidak hanya dalam aspek teori, tetapi juga dalam keterampilan praktik. Pembelajaran keterampilan klinis menjadi salah satu bagian penting dalam kurikulum kedokteran karena berperan dalam membentuk kemampuan mahasiswa dalam melakukan prosedur medis, pemeriksaan fisik, serta pengambilan keputusan klinis. Salah satu metode pembelajaran yang kini semakin banyak diterapkan dalam pendidikan kedokteran adalah student centered learning (SCL). Pendekatan ini menempatkan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran, sehingga mereka dituntut untuk lebih mandiri, aktif, dan kritis dalam memahami serta mengaplikasikan materi keterampilan klinis. Namun, meskipun SCL memiliki banyak potensi dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan. Mahasiswa sering kali mengalami hambatan dalam menjalankan pembelajaran yang aktif, baik karena faktor internal seperti rasa kurang percaya diri dan kesiapan belajar, maupun faktor eksternal seperti karakter instruktur, lingkungan akademik, dan keterbatasan media pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan strategi pendekatan SCL terhadap proses pembelajaran keterampilan klinis pada mahasiswa kedokteran, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi efektivitas metode ini.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pendekatan SCL pada pembelajaran keterampilan klinis dalam konteks pendidikan kedokteran serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.
Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode focus group discussion (FGD). Partisipan penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada angkatan 2021-2023 yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui FGD daring, ditranskrip, dan dianalisis menggunakan Microsoft Excel.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima aspek utama yang mempengaruhi penerapan SCL dalam pembelajaran keterampilan klinis, yaitu faktor internal mahasiswa, media pembelajaran, karakter instruktur, keterlibatan teman kelompok, serta lingkungan akademik dan non-akademik. Faktor internal mahasiswa dapat menjadi pendukung maupun penghambat dalam pelaksanaan SCL. Mahasiswa yang memiliki kesiapan belajar mandiri, kepercayaan diri, dan motivasi tinggi cenderung lebih aktif dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, kecemasan berlebihan, manajemen waktu yang kurang baik, serta kecenderungan menjadi ‘pengamat’ dalam kelompok dapat menghambat keterlibatan mereka. Dari sisi media pembelajaran, video di GaMeL dianggap paling efektif karena memberikan gambaran visual yang jelas terkait prosedur keterampilan klinis, sementara rencana kerja sering dianggap kurang efektif karena banyak mahasiswa hanya menyalin tanpa benar-benar memahami isinya. Karakter instruktur juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Instruktur yang memberikan umpan balik konstruktif, validasi terhadap kemampuan mahasiswa, dan apresiasi terhadap usaha mereka dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Sebaliknya, instruktur yang memberikan umpan balik destruktif atau menghakimi dapat menurunkan motivasi mahasiswa, meskipun bagi beberapa mahasiswa lain, hal ini justru menjadi dorongan untuk lebih mempersiapkan diri. Keterlibatan teman kelompok juga berpengaruh dalam penerapan SCL. Mahasiswa lebih nyaman belajar dalam kelompok yang suportif, tidak menghakimi, dan aktif dalam berdiskusi. Mahasiswa yang memiliki teman kelompok yang ambisius dan aktif cenderung lebih terpacu untuk ikut berpartisipasi, tetapi ada juga mahasiswa yang lebih memilih bergantung pada teman yang dianggap lebih pintar dan hanya belajar secara pasif dengan mengamati praktik teman kelompoknya terlebih dahulu. Selain itu, lingkungan akademik dan non-akademik juga berperan dalam keberhasilan SCL. Kesesuaian antara materi yang diajarkan di lecture dan keterampilan klinis dapat memperkuat pemahaman mahasiswa, tetapi jadwal akademik yang padat, khususnya saat berdekatan dengan ujian kumulatif, sering menjadi hambatan dalam kesiapan belajar. Faktor non-akademik seperti keterlibatan mahasiswa dalam organisasi juga dapat mengurangi fokus mereka dalam pembelajaran keterampilan klinis.
Kesimpulan : Penerapan SCL dalam pembelajaran keterampilan klinis memberikan dampak positif terhadap motivasi belajar dan keterlibatan mahasiswa, namun masih terdapat tantangan yang perlu diatasi. Diperlukan perbaikan dalam sistem pendukung pembelajaran, seperti optimalisasi rencana kerja, sinkronisasi media pembelajaran dengan praktik keterampilan klinis, serta peningkatan kualitas fasilitasi oleh instruktur.
Kata kunci : Student Centered Learning, Keterampilan Klinis, Pendidikan Kedokteran, Pembelajaran Aktif, Focus Group Discussion.
Background : Medical education aims to produce competent healthcare professionals, not only in theoretical knowledge but also in practical skills. Clinical skills training is a crucial component of the medical curriculum, as it develops students’ abilities to perform medical procedures, conduct physical examinations, and make clinical decisions. One increasingly applied teaching method in medical education is student centered learning (SCL). This approach places students at the core of the learning process, requiring them to be more independent, active, and critical in understanding and applying clinical skills. However, despite its considerable potential to enhance learning effectiveness, the implementation of SCL still faces various challenges. Students often encounter obstacles in engaging in active learning due to internal factors such as lack of self-confidence and preparedness, as well as external factors including instructor characteristics, the academic environment, and limitations of available learning media. Therefore, this study aims to determine the application of the SCL approach strategy to the clinical skills learning process in medical students, as well as to identify supporting and inhibiting factors that influence the effectiveness of this method.
Objective : This study aims to examine the implementation of the SCL approach in clinical skills training within the context of medical education and to identify the factors that support and hinder its execution.
Method : A qualitative research design was employed using the focus group discussion (FGD) method. Participants were medical students from the Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada, from the 2021–2023 cohorts, selected based on predefined inclusion and exclusion criteria. Data were collected via online FGDs, transcribed verbatim, and analyzed using thematic coding techniques.
Results : The findings indicate that five main aspects influence the implementation of SCL in clinical skills training: students’ internal factors, learning media, instructor characteristics, peer group involvement, and both academic and non-academic environments. Students who are prepared for independent learning, confident, and highly motivated tend to be more active in the learning process. Conversely, excessive anxiety, poor time management, and a tendency to remain passive observers can hinder their engagement. In terms of learning media, videos provided through GaMeL are considered most effective because they offer clear visual representations of clinical procedures, while work plans are often viewed as less effective since many students merely copy them without fully understanding the content. The characteristics of instructors also play a crucial role; those who provide constructive feedback, validate students’ abilities, and appreciate their efforts enhance students’ confidence and active participation, whereas instructors who deliver destructive or judgmental feedback may diminish motivation—though for some students, such feedback may encourage them to prepare more diligently. Additionally, peer group dynamics significantly affect SCL implementation, with supportive and active groups fostering better participation, while reliance on more capable peers can lead to passive learning. Finally, alignment between lecture content and clinical skills can reinforce understanding, yet a heavy academic schedule, especially near cumulative exams, and non-academic commitments such as organizational involvement can detract from students’ focus on clinical skills training.
Conclusion : The implementation of SCL in clinical skills training positively influences students’ learning motivation and engagement; however, several challenges remain. Enhancing the learning support system—such as optimizing work plans, synchronizing learning media with practical sessions in the skills lab, and improving instructor facilitation quality—is necessary to overcome these challenges.
Keywords : Student-Centered Learning, clinical skills, medical education, active learning, focus group discussion.
Kata Kunci : Student Centered Learning , Keterampilan Klinis , Pendidikan Kedokteran , Pembelajaran Aktif , Focus Group Discussion