Peran Stakeholder dalam Perencanaan Aplikasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di OPD Kota Bekasi
Dwi Putri Ariestyani, Prof. Dr. Tri Kuntoro Priyambodo, M.Sc ; Dr. Ridwan Ahmad Sukri, S.S., M.Hum
2025 | Tesis | S2 Mag.Studi Kebijakan
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mendorong transformasi digital
di sektor pemerintahan Indonesia melalui implementasi eGovernment, yang
di Indonesia dikenal sebagai Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Kota Bekasi menjadi salah satu daerah yang
aktif dalam penerapan SPBE dengan berbagai inovasi digital berupa aplikasi untuk
meningkatkan kualitas pelayanan publik. Perkembangan aplikasi di Kota Bekasi
melibatkan pemangku kepentingan. Setiap pemangku kepentingan memiliki peran
strategis dalam perencanaan dan pengembangan aplikasi SPBE dengan kepentingan
dan kontribusi yang beragam untuk memastikan keselarasan dengan kebutuhan dan
tujuan layanan publik.
Namun, dalam
implementasinya masih terdapat tantangan dalam koordinasi dan integrasi antar
aplikasi yang dikembangkan oleh berbagai OPD. Kendala ini terutama muncul dalam
perancanaan aplikasi yang dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari
penyusunan RKPD, Musrembang, forum hingga penganggaran dalam APBD, serta wajib
mengikuti tujuh tahap pengembangan, termasuk analisis kebutuhan, perencanaan,
rancang bangun, implementasi, hingga evaluasi. Kolaborasi yang efektif antara
pemangku kepentingan menjadi faktor kunci dalam memastikan bahwa setiap
aplikasi yang dibuat dapat terhubung secara optimal. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi variasi aplikasi yang berkembang Kota Bekasi,
menganalisis peran stakeholder dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
kolaborasi antar stakeholder dalam
perencanaan aplikasi di OPD Kota Bekasi. Penelitian ini dilakukan dengan
metode kualitatif.
Pemerintah
Kota Bekasi mengembangkan aplikasi digital dalam implementasi SPBE untuk
meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan dukungan regulasi nasional dan
daerah. Perencanaan dan pengembangan aplikasi melibatkan berbagai pemangku
kepentingan dengan klasifikasi dan peran spesifik, yakni sebagai pembuat
kebijakan yang terdiri dari pemerintah pusat dan Wali Kota yang juga memiliki
peran sebagai pengarah strategis di Pemerintah Kota Bekasi. Kemudian
koordinator terdiri dari Sekretaris
Daerah, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bekasi, Diskominfostandi dan
Kepala OPD; DPRD dan Kelompok Pendukung (Akademisi, Pelaku Usaha,
Komunitas/Organisasi, Media) sebagai fasilitator serta OPD dan Aparatur Pemkot
Bekasi sebagai implementer; dan Rekanan atau Tenaga
Ahli sebagai akselerator. Kolaborasi antar
pemangku kepentingan dipengaruhi oleh
faktor strategis seperti kepemimpinan kolektif, konsensus, komunikasi multi
arah, berbagi sumber daya, struktur jaringan, komitmen terhadap tujuan, dan
kepercayaan antar anggota serta tata kelola yang baik. Kolaborasi yang kuat
antar pemangku kepentingan, didukung regulasi dan koordinasi yang efektif,
menjadi kunci keberhasilan SPBE di Kota Bekasi. Evaluasi berkala dan komitmen
bersama diperlukan untuk memastikan transformasi digital yang terintegrasi,
transparan, dan berkelanjutan dalam meningkatkan layanan publik.
The
development of information and communication technology (ICT) has encouraged
digital transformation in the Indonesian government sector by implementing
eGovernment, which in Indonesia is known as the Electronic-Based Government
System (SPBE). Bekasi City is one of the regions actively
implementing SPBE with various digital innovations in the form of applications
to improve the quality of public services. The development of applications in
Bekasi City involves stakeholders, each of whom brings diverse interests and
valuable contributions to the table. These stakeholders play a strategic role
in planning and developing SPBE applications, ensuring alignment with public
service needs and objectives.
However, in its implementation, there are still
challenges in coordination and integration between applications developed by
various local bureaucracies (Indonesian: Organisasi Perangkat Daerah). This
obstacle mainly arises in the planning of applications that are carried out
through various stages, starting from the preparation of the RKPD, Musrenbang,
and forum to budgeting in the APBD, and must follow seven stages of
development, including needs analysis, planning, design, implementation, and
evaluation. Effective collaboration between stakeholders is a key factor in
ensuring that each application created can be optimally connected. This
research aims to identify the variety of applications developing in Bekasi
City, analyze the role of stakeholders and explain the factors that influence
collaboration between stakeholders in application planning at the Bekasi City
OPD. This research was conducted using a qualitative method.
The Bekasi City Government develops digital
applications to implement SPBE to improve the quality of public services with
the support of national and regional regulations. Application planning and
development involves stakeholders with specific classifications and roles,
namely as policymakers consisting of the central government and the Mayor, who
also has a role as a strategic director in the Bekasi City Government. Then the
coordinator consists of the Regional Secretary, the Bekasi City Regional Government
Budget Team (TAPD), Bekasi City Communication, Information, Statistics and
Encryption Service and the Head of locals bureaucracy; DPRD and Support Groups
(Academics, Business Actors, Communities / Organizations, Media) as
facilitators and the locals bureaucracy and Bekasi City Government Apparatus as
implementers; and Partners or Experts as accelerators. The success of SPBE in
Bekasi City is directly tied to the collaboration and commitment of these
stakeholders. Their collective leadership, consensus, multi-directional
communication, resource sharing, network structure, commitment to goals, trust
between members, and good governance are all crucial to the success of SPBE.
Regular evaluation and joint commitment are needed to ensure integrated,
transparent, and sustainable digital transformation in improving public
services.
Kata Kunci : Peran, Klasifikasi, Stakeholder, Perencanaan Aplikasi, Implementasi Kebijakan, SPBE, Kolaborasi